Nasional . 07/02/2026, 17:35 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
fin.co.id - Gempa megathrust berkekuatan Magnitudo 6,2 yang mengguncang Pacitan bukan sekadar peristiwa seismik. Peristiwa ini kembali menghidupkan Ramalan Jayabaya yang legendaris, khususnya petikan “Wong Jowo kari separo” yang berarti orang Jawa tinggal separuh.
Frasa yang terdengar menyeramkan ini kerap dikaitkan dengan potensi gempa megathrust besar yang dikhawatirkan dapat “membelah” Pulau Jawa, bahkan disusul tsunami dengan ketinggian hingga 34 meter.
Ramalan Jayabaya merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Jawa yang diwariskan selama berabad-abad.
Prabu Jayabaya, raja Kediri yang memerintah pada abad ke-12, dikenal luas karena ramalan-ramalannya tentang masa depan, termasuk kemungkinan terjadinya bencana alam di Tanah Jawa.
Ramalan tersebut tertuang dalam naskah kuno seperti Serat Jayabaya Musarar dan Babad Tanah Jawi.
Isinya bukan semata ramalan bencana, melainkan gambaran tentang zaman edan atau masa kekacauan.
“Akeh ingkang gara-gara. Udan salah mangsa prapti. Akeh lindhu lan grahana... Tanah Jawa pothar pathir...”
(Banyak kekacauan. Hujan datang tidak pada musimnya. Banyak gempa dan gerhana. Tanah Jawa porak-poranda.)
Ramalan ini juga memuat tanda-tanda sosial. Seperti penguasa yang lalim, hilangnya kepedulian antarsesama, serta merajalelanya ketidakadilan.
Di puncak masa kegelapan tersebut, disebutkan akan muncul sosok “Satria Piningit”. Yakni penyelamat yang tersembunyi.
Prabu Jayabaya, atau Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya, adalah penguasa Kerajaan Kediri atau Panjalu yang berkuasa sekitar tahun 1135 hingga 1159 Masehi.
Ketenarannya melejit melalui Jangka Jayabaya, kumpulan ramalan yang disusun dalam bentuk tembang Jawa.
Banyak kalangan meyakini sebagian ramalannya terbukti, seperti datangnya bangsa asing dan periode penjajahan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media