Ekonomi . 08/02/2026, 20:23 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - PT Pertamina (Persero) baru saja mencetak sejarah dengan berhasil menyatukan berbagai lini bisnis subholdingnya. Langkah berani ini bukan sekadar perombakan struktur, melainkan fondasi kuat untuk integrasi energi nasional dari hulu hingga hilir. Keberhasilan ini mengirimkan sinyal keras ke pemerintah: saatnya BUMN sejenis melakukan konsolidasi besar-besaran untuk daya saing global.
Ringkasan:
Sofyano Zakaria, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI), mengapresiasi transformasi yang dilakukan Pertamina. Ia menilai, sinergi antara sektor pengolahan, pengangkutan, dan distribusi energi ini secara signifikan memangkas biaya operasional sekaligus mempercepat pengambilan keputusan strategis. Hasil gemilang Pertamina ini diharapkan menjadi blueprint bagi pemerintah dalam membenahi BUMN lain yang masih memiliki tumpang tindih fungsi.
Direktur PUSKEPI Sofyano Zakaria
Keberhasilan Pertamina seharusnya menjadi cambuk bagi Pemerintah dan Danantara untuk segera meninjau BUMN lain. Sofyano menyoroti sektor perhubungan dan konstruksi sebagai area yang sangat potensial untuk perbaikan. Ia menyebut nama-nama besar seperti PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Angkasa Pura Indonesia, hingga BUMN Karya, yang menurutnya masih memiliki anak usaha dengan peran yang sangat mirip. Kondisi seperti ini berisiko memecah fokus perusahaan dan memicu persaingan internal yang justru merugikan.
“Merger ini bukan sekadar soal mengganti struktur organisasi. Ini adalah upaya konkret untuk memperbaiki sistem kerja, menghilangkan fungsi-fungsi yang tumpang tindih, dan memastikan setiap lini usaha bergerak di bawah satu komando yang jelas,” tegas Sofyano, Minggu, 8 Februari 2026.
Ia menambahkan, tantangan pasar global yang semakin ketat menuntut kesatuan arah dan kecepatan gerak. Hal ini hanya bisa dicapai melalui struktur organisasi yang ramping dan efisien.
Sofyano merinci empat alasan fundamental mengapa penggabungan BUMN sejenis sangat krusial untuk mendongkrak ekonomi nasional. Pertama, efisiensi biaya. Dengan mengurangi duplikasi jabatan dan sistem, perusahaan dapat memangkas pengeluaran secara drastis. Penghematan ini tentu saja dapat dialokasikan untuk investasi yang lebih strategis.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media