Nasional . 11/02/2026, 20:27 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Lampion merah yang menggantung di depan rumah, kuil, dan jalanan saat Tahun Baru Imlek bukan sekadar dekorasi. Di balik cahayanya yang hangat, tersimpan sejarah panjang, kisah legenda, serta makna spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Dalam tradisi Tionghoa, lampion menjadi simbol penerang, harapan, penolak bala, sekaligus lambang kebahagiaan menyambut tahun yang baru.
Masyarakat Tionghoa meyakini, “Lampion adalah doa yang dinyalakan dalam bentuk cahaya.”
Rangkaian perayaan Imlek ditutup dengan Festival Lentera atau Festival Yuan Xiao yang jatuh pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar.
Pada malam itu, ribuan lampion dinyalakan hingga menciptakan pemandangan kota yang gemerlap.
Menurut berbagai literatur sejarah, Festival Lentera menjadi momentum penting dalam tradisi Tahun Baru Cina.
Rumah-rumah dihiasi lampion berwarna merah, emas, dan warna cerah lainnya sebagai simbol sukacita. Perayaan tersebut juga diramaikan dengan:
Catatan sejarah menunjukkan bahwa tradisi menyalakan lentera telah dikenal sejak era Dinasti Han (206 SM–220 M).
Pada masa itu, para biksu Buddha menyalakan lampion pada malam ke-15 sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha.
Kebiasaan ini kemudian diikuti masyarakat luas hingga menjadi tradisi tahunan.
Seiring penyebaran budaya Tionghoa ke berbagai wilayah Asia, tradisi lampion pun berkembang dan mengalami adaptasi lokal.
Dari ritual keagamaan, lampion bertransformasi menjadi simbol perayaan dalam Tahun Baru Imlek.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media