Nasional . 12/02/2026, 21:11 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Gatot Wahyu
Pertama, sesar ini telah menunjukkan indikasi aktivitas geologis yang kuat di era prasejarah.
Kedua, hingga saat ini belum ada catatan gempa besar yang terekam secara instrumental di jalur sesar ini pada era modern.
Ini berarti, walau belum menghasilkan gempa besar yang tercatat, Sesar Cisadane menyimpan potensi bahaya yang nyata.
Risiko ini akan semakin meningkat jika sesar tersebut tiba-tiba mengalami reaktivasi di kemudian hari.
Temuan Sesar Cisadane ini tentu saja menambah daftar panjang jalur patahan yang memang sudah mengelilingi wilayah Jabodetabek.
Sebelumnya, kita sudah mengenal adanya Sesar Baribis, yang sebagian jalurnya bahkan berada di bawah wilayah Jakarta dan Bekasi.
Sesar Baribis ini dikenal sebagai sesar aktif yang tercatat pernah memicu gempa besar di abad ke-19.
Selain itu, ada pula Sesar Citarik yang membentang dari Sukabumi hingga Bekasi, yang tercatat beberapa kali menghasilkan gempa lokal berskala kecil.
Kombinasi dari berbagai sesar inilah yang menjadikan wilayah metropolitan Jakarta dan sekitarnya memiliki profil risiko gempa bumi yang sangat kompleks dan tersebar luas.
Ini bukan sekadar cerita fiksi, melainkan realitas geologis yang harus kita hadapi dengan serius.
Mengetahui adanya Sesar Cisadane dan sesar-sesar lainnya, para ahli menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan bencana di kalangan masyarakat Jabodetabek.
Pesan para ahli bukanlah untuk menimbulkan kepanikan, melainkan untuk mengajak kita semua bergerak lebih proaktif dalam menghadapi potensi ancaman gempa bumi.
Beberapa langkah krusial yang perlu segera diambil meliputi:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media