Nasional . 22/02/2026, 16:05 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Masyarakat Indonesia harus bersiap menghadapi potensi perbedaan hari raya pada tahun mendatang. Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 diprediksi tidak akan berlangsung serentak. Pemerintah kemungkinan besar menetapkan 1 Syawal pada Sabtu, 21 Maret 2026, sementara Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah mengonfirmasi bahwa hari kemenangan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Munculnya dua tanggal berbeda ini bersumber dari kriteria penentuan awal bulan Hijriah yang tidak seragam. Pemerintah Indonesia masih setia menggunakan standar MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), sedangkan Muhammadiyah kini beralih sepenuhnya ke sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Peneliti Senior dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memberikan penjelasan teknis terkait fenomena ini. Menurut perhitungannya, saat sidang isbat digelar pada 19 Maret 2026 nanti, posisi bulan sabit atau hilal belum mencapai titik yang dipersyaratkan oleh kriteria baru MABIMS di wilayah Asia Tenggara.
Standar MABIMS mewajibkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari) minimal 6,4 derajat agar bulan baru bisa dianggap sah. Namun, data astronomi menunjukkan posisi hilal pada waktu tersebut masih di bawah ambang batas tersebut.
“Pada saat maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS. Karena itu sangat mungkin 1 Syawal 1447 H ditetapkan jatuh pada 21 Maret 2026,” ujar Thomas Djamaluddin saat memberikan keterangan pada Minggu, 22 Februari 2026.
Kondisi ini membuat pemerintah kemungkinan besar akan melakukan istikmal, yaitu menggenapkan jumlah hari di bulan Ramadan menjadi 30 hari. Alhasil, masyarakat yang mengikuti keputusan pemerintah baru akan mengakhiri puasa pada hari Jumat dan berlebaran di hari Sabtu.
Di sisi lain, Muhammadiyah sudah memiliki kepastian lebih awal. Melalui Maklumat Pimpinan Pusat, organisasi ini menetapkan Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Langkah ini sejalan dengan komitmen Muhammadiyah dalam mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang merupakan hasil kesepakatan Kongres Turki 2016.
Thomas menjelaskan bahwa jika menggunakan kriteria Turki, ijtimak (konjungsi) sudah terjadi sebelum fajar di wilayah Selandia Baru. Secara global, posisi bulan pada tanggal 19 Maret tersebut sudah memenuhi syarat sebagai awal bulan baru tanpa harus melihat posisi hilal di tiap-tiap negara secara spesifik.
Muhammadiyah memandang KHGT sebagai solusi untuk menciptakan persatuan umat Islam di seluruh dunia. Dengan sistem satu kalender internasional, umat Islam diharapkan bisa merayakan hari besar secara bersamaan tanpa terhalang sekat geografis maupun kedaulatan politik negara masing-masing.
Publik seringkali salah mengira bahwa perbedaan ini terjadi karena perdebatan antara metode hitungan (hisab) dan pemantauan mata (rukyat). Namun, Thomas Djamaluddin menegaskan bahwa akar masalahnya ada pada perbedaan standar kriteria yang dipakai oleh masing-masing institusi.
Menurut Thomas, selama pemerintah tetap memegang teguh kriteria regional MABIMS dan Muhammadiyah konsisten menerapkan kriteria internasional KHGT, maka perbedaan jadwal ibadah akan semakin sering kita temui di masa depan. Hal ini berlaku tidak hanya untuk Idul Fitri, tetapi juga awal Ramadan dan Idul Adha.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media