Pendidikan . 25/02/2026, 15:52 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Sebelum masuk sekolah formal, anak-anak di sana lebih banyak fokus pada bermain, eksplorasi, dan interaksi sosial. Pendekatan ini bertujuan memperkuat fondasi emosional dan sosial sebelum memasuki dunia akademik yang lebih terstruktur.
Model ini menunjukkan bahwa menunda bukan berarti menghambat. Justru, memberi waktu tambahan bisa membantu anak melangkah dengan lebih percaya diri saat akhirnya masuk sekolah.
Otak kiri berperan dalam logika, bahasa, dan analisis. Sementara otak kanan mengatur kreativitas, emosi, dan intuisi. Penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan umumnya memiliki konektivitas yang lebih baik antara kedua belahan otak tersebut. Ini membuat mereka relatif lebih mudah melakukan multitasking dan menyeimbangkan logika serta emosi.
Anak laki-laki, di sisi lain, sering kali unggul dalam tugas dengan fokus tunggal, tetapi kesulitan melakukan banyak hal sekaligus. Perbedaan ini sepenuhnya normal dan merupakan bagian dari variasi biologis manusia.
Karena itu, kebijakan pendidikan seharusnya mempertimbangkan aspek perkembangan ini. Tidak semua anak siap menghadapi dunia akademik pada usia yang sama.
Banyak guru SD mengakui bahwa siswa laki-laki kelas 1 cenderung lebih sulit duduk diam dan cepat bosan. Namun, ini bukan tanda kenakalan. Otak mereka sedang mencari stimulasi yang sesuai.
Jika metode pembelajaran lebih adaptif—misalnya melalui pendekatan bermain, proyek, atau aktivitas kinestetik—potensi anak laki-laki bisa berkembang lebih optimal. Masalahnya, tidak semua sekolah mampu menerapkan pendekatan yang fleksibel.
Kurikulum yang terlalu cepat dan tekanan akademik sejak dini berisiko menciptakan generasi yang lelah sebelum berkembang. Anak bisa kehilangan semangat belajar hanya karena dipaksa mengikuti ritme yang belum sesuai tahapannya.
Mindset orangtua memegang peranan krusial. Banyak orangtua bangga jika anak sudah bisa membaca di usia lima tahun. Namun, jarang yang bertanya apakah anak tersebut benar-benar siap secara mental dan emosional.
Setiap anak memiliki “jam belajar” yang berbeda. Tidak ada istilah tertinggal, hanya waktunya yang belum tiba. Ketidaksiapan inilah yang kerap memunculkan masalah di kelas tinggi, seperti sulit fokus, rendah motivasi, hingga stres akademik.
Menurut UNICEF, masa kanak-kanak awal (0–8 tahun) adalah periode emas perkembangan otak. Pengalaman yang menyenangkan akan memperkuat koneksi saraf dan mendukung perkembangan kognitif, sosial, emosional, serta fisik.
Artinya, tekanan berlebih di usia dini justru bisa menghambat pertumbuhan optimal. Memberi kesempatan anak laki-laki masuk SD pada usia tujuh tahun bukanlah langkah mundur, melainkan strategi jangka panjang.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media