Ekonomi . 26/02/2026, 10:10 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Dunia perbankan tanah air baru saja dikejutkan dengan rilis performa terbaru dari sang raja kredit wong cilik. Di tengah ketatnya likuiditas dan melambatnya permintaan pembiayaan di industri nasional, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) justru tancap gas. Tidak main-main, bank pelat merah ini sukses mencatatkan pertumbuhan kredit hingga dua digit sepanjang tahun 2025.
Kabar ini tentu menjadi sinyal "hijau" bagi para investor yang sedang mencari kepastian di pasar modal. Saat bank lain mungkin mulai ngerem, BRI justru membuktikan taji sebagai lokomotif ekonomi kerakyatan dengan angka penyaluran pembiayaan yang fantastis. Penasaran seberapa besar ledakan kinerjanya? Simak ulasan mendalam berikut ini agar Anda tidak ketinggalan momentum!
Hingga akhir Desember 2025, emiten bersandi saham BBRI ini berhasil menyalurkan pinjaman sebesar Rp1.521 triliun. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 12,3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Yang menarik, pencapaian ini jauh meninggalkan rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional yang hanya tertahan di kisaran 9,6%. Artinya, ekspansi BRI melaju jauh lebih cepat dibanding kompetitornya.
Keberhasilan ini bukan tanpa alasan. BRI secara konsisten fokus pada ceruk pasar yang menjadi kekuatannya, yaitu segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Strategi ini terbukti ampuh menjaga mesin pendapatan perusahaan tetap panas meski kondisi makro ekonomi sedang penuh dinamika.
Direktur Utama BRI, Hery Gunadi, dalam konferensi pers kinerja keuangan yang digelar Kamis (26/2/2026), menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari strategi yang matang namun tetap waspada.
"Pertumbuhan kredit BRI tetap double digit dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kami berkomitmen untuk terus menjadi motor penggerak ekonomi, terutama di sektor produktif, sembari menjaga fundamental perusahaan tetap kokoh," tegas Hery Gunadi.
Bagi Anda yang mengikuti perkembangan sektor finansial, dominasi BRI di segmen UMKM memang tidak terbantahkan. Direktur Treasury and International Banking BRI, Farida Thamrin, menjelaskan bahwa struktur kredit perusahaan memang sengaja didominasi oleh pelaku usaha kecil. Hal ini sejalan dengan misi perusahaan untuk terus mendukung keberlanjutan sektor riil di Indonesia.
Sebagai bukti nyata dukungan terhadap program pemerintah, BRI telah mengucurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp170 triliun hingga akhir 2025. Dana jumbo tersebut mengalir kepada lebih dari 3,8 juta debitur di seluruh pelosok negeri. Bayangkan betapa besarnya dampak ekonomi yang tercipta dari perputaran dana sebesar itu!
Banyak yang khawatir jika kredit tumbuh terlalu cepat, kualitas aset akan jeblok. Namun, BRI mematahkan stigma tersebut. Meski agresif menyalurkan pinjaman ke sektor UMKM, manajemen berhasil menjaga risiko tetap terkendali. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada di level 3,07%.
Lebih keren lagi, rasio Loan at Risk (LAR) yang sering menjadi momok perbankan berhasil turun signifikan dari 10,7% menjadi hanya 9,6%. Untuk memberikan rasa aman ekstra bagi pemegang saham, perseroan juga menyiapkan bantalan yang sangat tebal berupa NPL coverage ratio sebesar 178,1%. Ini adalah "payung" yang sangat kuat untuk menghadapi potensi risiko di masa depan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media