Ekonomi . 02/03/2026, 22:57 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id - Kepanikan massal melanda Bursa Efek Indonesia. Eskalasi konflik yang kian memanas antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kini menjadi momok menakutkan bagi investor domestik. Pasar modal tanah air seketika menjadi sasaran empuk aksi jual masif, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk di awal pekan ini.
Para pelaku pasar tampaknya kehilangan nyali melihat ketegangan geopolitik global yang semakin tidak menentu. Respons instan mereka terhadap situasi ini adalah menarik dana keluar dari bursa, sebuah langkah yang memicu koreksi cukup dalam pada perdagangan Senin (2/3/2026).
Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menyebutkan bahwa kejatuhan indeks saham nasional tidak bisa dihindari akibat sentimen negatif yang datang bertubi-tubi dari Timur Tengah. IHSG bahkan sempat menunjukkan pelemahan yang sangat signifikan tepat saat memasuki sesi kedua perdagangan.
"Pasar tampaknya panik dengan situasi tersebut dan cenderung melakukan aksi jualnya. Terpantau IHSG pembukaan sesi 2 hari ini sudah minus lebih dari 2 persen di posisi 8020-an," ujar Priyambada saat dihubungi pada Senin sore.
Priyambada menambahkan bahwa ketidakpastian ini berpotensi terus menekan performa bursa dalam waktu dekat. Jika ketegangan global belum mereda, aksi jual saham kemungkinan masih akan berlanjut, yang pada akhirnya akan terus menggerus nilai kapitalisasi pasar dan menurunkan performa IHSG secara keseluruhan.
"Dampaknya ya itu, terjadinya aksi jual sehingga berimbas ke penurunan IHSG," tambahnya dengan nada peringatan bagi para investor agar tetap berhati-hati dalam memantau portofolio mereka.
Di tengah badai yang menerjang pasar finansial, Bank Indonesia (BI) menyatakan sikap sigapnya. Sebagai otoritas moneter, BI tidak akan membiarkan Rupiah dan pasar domestik terguncang tanpa kendali. Mereka berjanji untuk terus memantau pergerakan pasar secara seksama agar dampak dari konflik Iran-AS tidak melebar ke sektor ekonomi lainnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia, Erwin, memastikan bahwa pihaknya akan hadir di pasar untuk menjaga stabilitas Rupiah. BI akan melancarkan intervensi melalui berbagai instrumen, baik di pasar luar negeri maupun dalam negeri.
"Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," ujar Erwin memberikan kepastian kepada publik.
Strategi intervensi yang disiapkan mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar global, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Langkah ini dilakukan agar volatilitas nilai tukar tetap terjaga dan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia tidak runtuh begitu saja akibat isu geopolitik.
Bagi para investor, situasi seperti saat ini memang sangat menantang. Aksi jual yang dipicu oleh ketakutan (panik) seringkali mengabaikan fundamental perusahaan yang sebenarnya masih sehat. Namun, di tengah situasi di mana setiap berita dari Timur Tengah dapat mengguncang pasar dalam hitungan detik, kewaspadaan adalah kunci utama.
Pemerintah dan otoritas terkait diperkirakan akan terus melakukan koordinasi ketat untuk menstabilkan kondisi ekonomi. Sementara itu, pelaku pasar diminta untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan investasi dan terus mengikuti perkembangan kebijakan dari Bank Indonesia serta sentimen geopolitik global yang tengah bergulir kencang.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media