Nasional . 05/03/2026, 17:07 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Di tengah meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah pada awal 2026, sebuah potongan ceramah ulama Nahdlatul Ulama KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mendadak viral di media sosial.
Dalam kajian tersebut, Gus Baha memberikan penjelasan yang dinilai sangat penting, yaitu bahwa kata “Israel” yang terdapat dalam Al-Qur’an tidak merujuk pada negara Israel modern.
Penjelasan ini dianggap krusial agar umat Islam tidak keliru menafsirkan ayat suci dengan mencampuradukkan konteks sejarah kenabian dengan realitas politik modern.
Video ceramah tersebut menyebar luas di TikTok dan berbagai platform digital lainnya, memicu diskusi luas tentang tafsir istilah Bani Israel dalam Al-Qur’an.
Dalam kajiannya, Gus Baha menegaskan bahwa kata “Israel” dalam Al-Qur’an sebenarnya merupakan bentuk penghormatan. Ia menjelaskan istilah tersebut merujuk kepada keturunan para nabi.
“Israel itu kalimat pujian. Dalam Al-Qur’an disebutkan mereka pernah dimuliakan di atas umat-umat lain,” jelas Gus Baha dalam ceramahnya.
Menurutnya, istilah tersebut tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai identitas politik seperti yang ada saat ini. Makna tersebut berkaitan dengan nasab atau garis keturunan para nabi.
Gus Baha juga mengingatkan bahwa kata Israel sebenarnya adalah nama lain dari Nabi Yaqub AS.
Nabi Yaqub memiliki garis keturunan yang sangat mulia dalam tradisi Islam.
Karena itu, sebutan Bani Israel secara harfiah berarti anak cucu Nabi Yaqub. Dalam konteks Al-Qur’an, istilah ini digunakan untuk merujuk kepada keturunan nabi tersebut pada masa lampau.
Gus Baha menegaskan bahwa sangat penting membedakan antara Bani Israel dalam Al-Qur’an dengan negara Israel yang berdiri pada tahun 1948.
Menurutnya, negara modern merupakan entitas politik yang memiliki komposisi penduduk yang sangat beragam.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media