Nasional . 05/03/2026, 17:07 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
“Israel yang sekarang itu sebuah negara. Penduduknya bermacam-macam, ada yang dari Eropa, Amerika, dan banyak yang membawa ideologi tertentu,” ujar Gus Baha.
Dengan kata lain, istilah yang digunakan dalam kitab suci tidak secara langsung berkaitan dengan negara modern tersebut.
Dalam penjelasannya, Gus Baha juga menyinggung latar belakang sejarah penggunaan panggilan “Ya Bani Israel” dalam Al-Qur’an.
Seruan tersebut memiliki konteks tertentu pada masa Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu terdapat komunitas Yahudi yang tinggal di Madinah.
Banyak dari mereka diyakini memiliki garis keturunan yang masih terhubung dengan Nabi Ibrahim.
Karena itulah Al-Qur’an menggunakan panggilan tersebut ketika berbicara kepada komunitas tertentu pada masa itu.
“Ketika Allah berfirman ‘Ya Bani Israel’, itu adalah seruan kepada komunitas yang hidup pada zaman Nabi,” terang Gus Baha.
Gus Baha menekankan bahwa memahami konteks sejarah dan nasab sangat penting dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an.
Tanpa pemahaman tersebut, seseorang bisa saja mencampuradukkan kisah masa lampau dengan realitas politik masa kini.
Hal inilah yang sering menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Padahal, banyak ayat dalam Al-Qur’an justru berbicara tentang peristiwa sejarah dan pelajaran moral dari umat-umat terdahulu.
Melalui ceramahnya, Gus Baha mengingatkan umat Islam agar lebih bijak dalam memahami istilah yang terdapat dalam kitab suci.
Menurutnya, konflik politik global tidak boleh membuat umat salah menafsirkan teks Al-Qur’an.
Perbedaan antara Bani Israel sebagai keturunan nabi dan negara Israel modern harus dipahami dengan jelas.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media