Internasional . 05/03/2026, 19:54 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Maskapai asal Taiwan EVA Air serta maskapai China seperti Air China juga mengalami peningkatan pemesanan yang sangat signifikan.
Sebagai gambaran, tiket ekonomi rute Beijing menuju London yang biasanya dijual di bawah 10.000 yuan atau sekitar Rp22,9 juta kini hampir tidak tersedia.
Bahkan untuk penerbangan segera, Air China hanya menyediakan kursi kelas bisnis.
Harga tiketnya mencapai 50.490 yuan atau sekitar Rp110 juta.
Krisis ini menunjukkan betapa pentingnya kawasan Timur Tengah dalam jaringan penerbangan global.
Penutupan beberapa bandara utama saja sudah cukup untuk mengguncang sistem penerbangan internasional.
Ketua Association of Asia Pacific Airlines, Subhas Menon, mengatakan bahwa situasi ini membuat banyak maskapai harus menanggung biaya operasional yang jauh lebih tinggi.
Menurutnya, jika rute menuju Eropa hanya bisa dilayani dengan biaya mahal, maka profitabilitas maskapai akan terganggu.
“Jika Eropa hanya dapat dilayani dengan biaya tinggi, profitabilitas maskapai akan tertekan. Pada akhirnya, harga yang harus dibayar adalah konektivitas global,” ujar Menon.
Apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut, para analis memperkirakan harga tiket pesawat internasional akan tetap tinggi dalam beberapa minggu ke depan.
Hal ini berpotensi mempengaruhi sektor pariwisata global serta mobilitas bisnis internasional. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media