Nasional . 09/03/2026, 08:24 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Cuaca di Indonesia kembali jadi sorotan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi dua bibit siklon tropis yang berpotensi memicu peningkatan curah hujan di berbagai wilayah. Fenomena ini terjadi pada Senin dan membuat sejumlah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan dengan intensitas tinggi.
BMKG menyoroti dua sistem atmosfer yang sedang berkembang, yaitu bibit siklon tropis 93S dan 95W. Keduanya muncul di wilayah perairan sekitar Indonesia dan memengaruhi dinamika atmosfer yang berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan.
Kondisi ini membuat prakiraan cuaca di banyak wilayah berubah menjadi lebih dinamis. Beberapa kota bahkan diperkirakan mengalami hujan disertai petir.
Prakirawan BMKG, Diahayu, menjelaskan bahwa bibit siklon tropis 93S terdeteksi di Samudera Hindia, tepatnya di selatan Lampung. Sistem ini menunjukkan kecepatan angin maksimum sekitar 30 knot dengan tekanan udara minimum mencapai 999 hPa.
Meski demikian, BMKG menilai peluang sistem ini berkembang menjadi siklon tropis masih tergolong rendah dalam 48 jam ke depan. Sebaliknya, sistem tersebut justru diperkirakan melemah.
Dalam periode 48 hingga 72 jam mendatang, kecepatan angin dari bibit siklon 93S diprediksi menurun menjadi sekitar 25 knot. Penurunan intensitas tersebut menandakan bahwa sistem atmosfer ini tidak berkembang signifikan menjadi badai tropis.
Namun, keberadaan bibit siklon ini tetap memberi dampak pada kondisi atmosfer. Sistem tersebut memicu terbentuknya aliran angin kencang di lapisan bawah atmosfer atau yang dikenal sebagai low level jet.
Selain itu, fenomena ini juga menciptakan daerah konvergensi di wilayah Samudera Hindia selatan Lampung. Konvergensi sendiri merupakan pertemuan massa udara yang sering memicu pertumbuhan awan hujan.
Selain 93S, BMKG juga memantau bibit siklon tropis 95W yang berada di Samudera Pasifik, tepatnya di utara Papua.
Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot dengan tekanan udara minimum 1006 hPa. Seperti halnya bibit siklon 93S, peluang perkembangan sistem ini menjadi siklon tropis juga masih rendah dalam dua hari ke depan.
BMKG memperkirakan sistem tersebut akan melemah secara bertahap dalam dua hingga tiga hari mendatang. Walaupun begitu, keberadaannya tetap memberi pengaruh pada dinamika cuaca di wilayah Indonesia bagian timur.
Tidak hanya dua bibit siklon tersebut, BMKG juga mengidentifikasi adanya sirkulasi siklonik di beberapa wilayah perairan Indonesia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media