Nasional . 11/03/2026, 16:02 WIB
Penulis : Gatot Wahyu | Editor : Gatot Wahyu
Nama Abu Janda mulai dikenal luas sekitar tahun 2015 ketika ia aktif di media sosial dengan konten yang mengangkat isu politik, sosial, dan keagamaan.
Ia menggunakan tagline “Melawan Teror dengan Humor”, yang menjadi ciri khas gaya komunikasinya di dunia digital.
Namun, gaya penyampaian yang tajam, satir, dan terkadang provokatif membuatnya kerap menuai kontroversi sekaligus menarik perhatian warganet.
Dalam perjalanan kariernya, Abu Janda juga pernah terlibat dalam dinamika politik nasional.
Pada Pemilihan Presiden 2019, ia dikenal sebagai bagian dari tim pendukung Joko Widodo. Namun beberapa tahun kemudian, tepatnya sekitar 2023, ia beralih mendukung Prabowo Subianto dan bergabung dengan jaringan relawan politik yang mendukung tokoh tersebut.
Perpindahan dukungan politik ini menunjukkan posisinya sebagai figur digital yang aktif menyuarakan pandangan politik di ruang publik.
Selain aktivitas politik, Abu Janda juga sering menjadi sorotan karena pandangannya terkait konflik Timur Tengah, terutama sikapnya yang dinilai cukup terbuka dalam membahas kebijakan Israel.
Pandangan tersebut memicu perdebatan luas di media sosial. Sebagian warganet menilai pendapatnya kontroversial, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk kebebasan berpendapat.
Perdebatan mengenai isu ini kembali memanas dalam diskusi televisi pada 10 Maret 2026.
Ketegangan dalam diskusi bermula ketika Feri Amsari menyinggung keputusan Prabowo Subianto yang bergabung dengan organisasi Board of Peace (BOP) yang disebut memiliki keterkaitan dengan tokoh politik Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam diskusi tersebut, Feri juga menyinggung hubungan historis antara Palestina dan Indonesia, termasuk peran tokoh Palestina dalam mendukung diplomasi kemerdekaan Indonesia di masa lalu.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media