Internasional . 12/03/2026, 13:50 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Sumber intelijen Amerika Serikat yang mengutip CNN menggambarkan kondisi Selat Hormuz saat ini dengan istilah dramatis: “lembah kematian” .
Istilah ini menggambarkan tingginya kapal risiko yang mencoba melintasi jalur tersebut di tengah ketegangan militer yang terus meningkat.
Menariknya, pejabat Amerika Serikat pada Selasa (10/3/2026) menyatakan bahwa Angkatan Laut AS belum melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Padahal sebelumnya Presiden AS sempat menyebut opsi pengawalan sebagai salah satu langkah yang dipertimbangkan untuk melindungi jalur perdagangan energi.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran.
Melalui akun media sosial Truth Social pada hari Selasa, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan bereaksi dengan kekuatan yang jauh lebih besar jika Iran benar-benar memblokade Selat Hormuz.
Menurut Trump, Washington siap melakukan serangan dengan intensitas 20 kali lebih besar dari yang telah dilakukan sebelumnya.
Ia bahkan menyatakan bahwa target yang dipilih akan membuat Iran sulit untuk membangun kembali negaranya jika konflik meningkat.
Dalam pernyataannya, Trump menulis bahwa “kematian, api, dan kemarahan akan menyerang mereka,” jika Iran mengganggu pasokan minyak global.
Meski demikian, ia juga menambahkan bahwa dirinya berharap situasi tersebut tidak benar-benar terjadi.
Ancaman Iran terhadap jalur pelayaran internasional menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya berdampak pada dua negara yang terlibat, tetapi juga berpotensi menimbulkan stabilitas ekonomi global.
Selat Hormuz dan Bab al-Mandab merupakan dua jalur laut paling penting di dunia.
Jika keduanya terganggu secara bersamaan, dampaknya bisa meliputi:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media