Internasional . 14/03/2026, 16:13 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan hadiah hingga 10 juta dolar AS atau sekitar Rp169,5 miliar bagi siapa pun yang memiliki informasi mengenai keberadaan pemimpin baru Iran, yaitu Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Program hadiah tersebut diumumkan melalui Rewards for Justice milik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, yang selama ini dikenal sebagai program untuk mengungkap individu yang dianggap terlibat dalam jaringan terorisme internasional.
Langkah ini memicu perhatian dunia karena terjadi di tengah eskalasi konflik antara Iran dengan Israel dan sekutu Barat di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Sabtu (14/3/2026), Rewards for Justice menyebutkan bahwa hadiah hingga 10 juta dolar AS diberikan bagi informasi yang dapat membantu menemukan para pemimpin kunci Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Menurut program tersebut, individu-individu yang masuk daftar pencarian dianggap memiliki peran penting dalam operasi yang diklaim oleh Washington sebagai aktivitas terorisme global.
Beberapa nama yang disebutkan dalam daftar tersebut antara lain:
Ayatollah Mojtaba Khamenei – Pemimpin baru Iran
Ali Asghar Hejazi – Wakil Kepala Staf di Kantor Pemimpin Tertinggi
Ali Larijani – Penasihat Kantor Pemimpin Tertinggi
Eskandar Momeni – Menteri Dalam Negeri Iran
Esmail Khatib – Menteri Intelijen dan Keamanan Iran
Dalam pernyataannya, program tersebut menegaskan bahwa para tokoh tersebut diduga memimpin berbagai elemen IRGC yang merencanakan, mengorganisasi, dan melaksanakan operasi yang dikategorikan sebagai terorisme.
Situasi memanas setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan itu dilaporkan menghantam beberapa fasilitas strategis di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan besar, korban sipil, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Washington dan Tel Aviv menyebut serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, pejabat dari kedua negara juga menyatakan bahwa tujuan strategis mereka adalah mendorong perubahan rezim di Iran, pernyataan yang semakin memperkeruh hubungan diplomatik di kawasan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media