Internasional . 17/03/2026, 20:59 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Sigit Nugroho
fin.co.id — Indonesia South-South Foundation (ISSF) menilai kemunculan Board of Peace (BoP) berpotensi memperkuat tata kelola perdamaian global di tengah dinamika geopolitik internasional yang semakin kompleks.
Pandangan tersebut mengemuka dalam forum bertajuk “Board of Peace, Board of Uncertainty” yang diselenggarakan di ABN Connect, Tangerang Selatan, pada 16 Maret 2026. Forum ini menjadi ruang dialog bagi para akademisi muda untuk membahas dinamika kemunculan Board of Peace serta relevansinya dalam memperkuat upaya perdamaian dunia.
Dalam sambutannya, Board of Advisor Indonesia South-South Foundation (ISSF), Khairy Fuady, menyampaikan bahwa forum tersebut dihadirkan untuk mendorong diskursus yang konstruktif mengenai berbagai inisiatif baru dalam tata kelola perdamaian global.
“Forum ini kami hadirkan sebagai ruang intelektual untuk memahami perkembangan terbaru dalam diplomasi perdamaian global. Kehadiran Board of Peace perlu dilihat sebagai bagian dari upaya kolektif masyarakat internasional dalam mencari pendekatan baru guna menjaga stabilitas dan perdamaian dunia,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Makmun Rasyid, Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, dalam pengantar diskusi menilai bahwa diplomasi dengan berbagai pihak, termasuk mereka yang memiliki perbedaan atau bahkan pernah berkonflik, merupakan praktik yang memiliki landasan kuat dalam tradisi keagamaan.
“Dalam tradisi Islam, misalnya, diplomasi dengan pihak yang berbeda, bahkan yang pernah berkonflik, bukanlah hal yang asing. Nabi Muhammad SAW pernah berunding dengan kaum Quraisy dalam Perjanjian Hudaibiyah, meskipun pada saat itu mereka merupakan pihak yang memerangi umat Islam. Para ulama kemudian menjelaskan bahwa negosiasi tidak selalu berarti persetujuan terhadap pihak lain, melainkan dapat menjadi strategi untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar. Prinsip fikih juga menegaskan bahwa sarana mengikuti hukum tujuan,” jelasnya.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah pemateri yang membahas Board of Peace dari berbagai perspektif. Para pembicara menilai bahwa kemunculan lembaga tersebut dapat menjadi instrumen baru untuk memperkuat kerja sama internasional dalam menjaga perdamaian, sekaligus melengkapi mekanisme yang selama ini dijalankan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
International Law Observer, Muhammad Arbani, menyoroti bahwa Board of Peace membuka ruang kolaborasi baru dalam diplomasi internasional.
“Board of Peace menunjukkan bahwa komunitas global terus mencari pendekatan baru dalam merespons konflik yang semakin kompleks,” ujarnya.
Sementara itu, Director of Security and Defense Indonesia South-South Foundation (ISSF), Fathira Salsabila, menyoroti relevansi peran Indonesia dalam diplomasi perdamaian global.
“Indonesia memiliki legitimasi moral dan diplomatik dalam mendorong penyelesaian konflik secara damai, termasuk melalui pendekatan two-state solution yang juga kerap disampaikan dalam berbagai forum internasional,” katanya.
Direktur Eksekutif Indonesia South-South Foundation (ISSF), Akbar Azmi Hardjasasmita, menekankan pentingnya kejelasan mekanisme serta kewenangan lembaga tersebut, terutama setelah pengakuannya melalui United Nations Security Council Resolution 2803.
“Ke depan, efektivitas Board of Peace akan sangat ditentukan oleh kejelasan struktur kelembagaan serta dukungan negara-negara anggota,” ungkapnya.
Dalam konteks yang lebih luas, keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace dipandang sebagai bagian dari upaya untuk memastikan bahwa proses rekonstruksi Gaza tetap mengarah pada solusi dua negara, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan dan dinamika politik internasional.
Forum ini menegaskan bahwa perkembangan Board of Peace perlu terus dikaji secara konstruktif sebagai bagian dari dinamika baru dalam upaya memperkuat perdamaian dunia. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi ramah tamah yang dilanjutkan dengan persiapan berbuka puasa bersama para peserta. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media