Internasional . 17/03/2026, 14:55 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengeluarkan pernyataan terkait akses di Selat Hormuz.
Melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Iran menegaskan bahwa jalur vital tersebut tidak ditutup sepenuhnya, melainkan hanya dibatasi untuk kapal-kapal tertentu.
Kapal yang dimaksud adalah milik Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara sekutu yang dianggap terlibat dalam serangan terhadap Iran.
“Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi tidak untuk pihak yang kami anggap sebagai musuh,” tegas Araghchi dalam pernyataannya.
Kebijakan ini muncul sehari setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap target strategis Iran di Pulau Kharg—salah satu pusat ekspor minyak utama negara tersebut.
Langkah Iran ini dinilai sebagai respons langsung sekaligus sinyal tegas bahwa Teheran tidak akan tinggal diam terhadap serangan yang menyasar sektor vitalnya.
Namun menariknya, Iran tidak memilih menutup total Selat Hormuz.
Sebaliknya, mereka menerapkan strategi pembatasan selektif agar tekanan tetap terasa tanpa memicu reaksi global yang lebih luas.
Keputusan untuk tidak melakukan blokade total dinilai sebagai langkah diplomasi yang terukur.
Jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz untuk semua kapal, maka negara-negara besar pengimpor energi bisa saja membentuk koalisi internasional untuk melawan Teheran.
Dengan pembatasan selektif, Iran:
Tetap memberi tekanan pada musuh
Menghindari konflik global lebih luas
Menjaga hubungan dengan negara netral
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media