Nasional . 19/03/2026, 20:37 WIB
Penulis : Rikhi Ferdian Herisetiana | Editor : Rikhi Ferdian Herisetiana
fin.co.id - Usai merayakan Idulfitri, umat Muslim akan memasuki bulan Syawal yang penuh keberkahan. Selain ibadah sunnah enam hari, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah kewajiban membayar (qadha) hutang puasa Ramadan bagi mereka yang sempat berhalangan (uzur).
Lantas, bagaimana tata cara, niat, dan kapan waktu terbaik untuk melunasinya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Pentingnya Melunasi Hutang Puasa
Hukum membayar hutang puasa Ramadan adalah wajib. Bagi wanita yang haid, musafir, atau orang sakit yang telah sembuh, mengganti puasa adalah bentuk pertanggungjawaban ibadah kepada Allah SWT.
Menunda-nunda qadha puasa tanpa alasan yang jelas hingga melewati Ramadan tahun berikutnya sangat tidak dianjurkan. Bahkan, beberapa ulama menyatakan wajib membayar fidyah (denda) jika hutang tersebut belum lunas saat Ramadan berikutnya tiba.
Keutamaan Qadha Puasa di Bulan Syawal
Membayar hutang puasa di bulan Syawal memiliki nilai lebih, di antaranya:
• Menyegerakan Kewajiban: Dalam Islam, menyegerakan urusan ibadah wajib sangat diutamakan agar beban kewajiban segera terangkat.
• Mendapat Pahala Syawal: Menurut sebagian ulama, jika seseorang melakukan qadha puasa di bulan Syawal, ia berpeluang mendapatkan pahala puasa Syawal sekaligus karena dilakukan di bulan yang mulia tersebut.
• Kondisi Tubuh Masih Terbiasa: Secara fisik, tubuh masih dalam ritme berpuasa setelah sebulan penuh di Ramadan, sehingga melaksanakan qadha di bulan Syawal terasa lebih ringan.
Bacaan Niat Puasa Qadha
Berbeda dengan puasa sunnah yang niatnya boleh dilakukan di pagi hari, niat puasa qadha wajib dilakukan pada malam hari atau sebelum waktu subuh tiba.
Lafaz Niat:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta'ālā.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media