Internasional . 20/03/2026, 13:02 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Pernyataan mengejutkan datang dari komunitas intelijen Amerika Serikat yang justru membantah klaim Presiden Donald Trump terkait ancaman nuklir Iran.
Alih-alih memperkuat narasi pemerintah, pernyataan resmi intelijen justru membuka fakta berbeda: program pengayaan nuklir Iran disebut telah dihancurkan sejak operasi militer sebelumnya.
Situasi ini langsung memicu polemik besar, tidak hanya di panggung internasional tetapi juga di dalam negeri Amerika Serikat sendiri.
Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, mengungkapkan bahwa program pengayaan nuklir Iran telah dihancurkan dalam operasi militer yang dilakukan sebelumnya.
Dalam kesaksian tertulisnya di hadapan Komite Intelijen Senat, Gabbard menyebut:
“Sebagai hasil dari Operasi Midnight Hammer, program pengayaan nuklir Iran telah dilenyapkan.”
Operasi yang dimaksud merujuk pada serangan militer Amerika Serikat pada Juni 2025 yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Bahkan, Gabbard menegaskan bahwa sejak saat itu tidak ada tanda-tanda Iran berusaha membangun kembali kemampuan pengayaan nuklirnya.
Namun, menariknya, pernyataan tegas tersebut tidak diulang secara langsung oleh Gabbard saat tampil di depan publik. Ketika didesak oleh senator, ia mengaku belum membaca keseluruhan kesaksian tertulisnya—meski tidak membantah isi dokumen tersebut.
Hal ini justru menambah spekulasi dan memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat.
Di sisi lain, Donald Trump tetap bersikukuh bahwa Iran berada di ambang memiliki senjata nuklir.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa serangan terhadap Iran pada 28 Februari dilakukan karena adanya “ancaman yang segera terjadi”. Ia bahkan mengklaim bahwa Teheran hanya tinggal beberapa minggu lagi untuk memiliki bom nuklir.
Namun, klaim tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh berbagai pihak, termasuk badan pengawas nuklir PBB dan sejumlah analis internasional.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media