Internasional . 20/03/2026, 13:02 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Fakta bahwa Iran masih terlibat dalam negosiasi nuklir pada saat itu juga memperkuat keraguan terhadap narasi ancaman mendesak yang disampaikan Trump.
Perbedaan penilaian tidak hanya terjadi antara pemerintah dan komunitas internasional, tetapi juga di dalam tubuh pemerintahan AS sendiri.
Direktur CIA, John Ratcliffe, memberikan pandangan berbeda terkait sikap Iran dalam negosiasi.
Menurutnya:
“Sangat jelas bahwa Iran, saat mereka berbicara, tidak memiliki niat untuk menindaklanjutinya.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun Iran mungkin tidak aktif mengembangkan nuklir, ada kekhawatiran terkait niat politik mereka.
Namun, perbedaan interpretasi ini justru memperlihatkan betapa kompleksnya situasi yang dihadapi Washington.
Gejolak di dalam negeri semakin memanas setelah seorang pejabat senior, Joseph Kent, memutuskan untuk mengundurkan diri.
Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berdasarkan ancaman nyata.
Kent menyatakan bahwa Iran tidak menimbulkan “ancaman yang segera terjadi” dan bahkan menuding bahwa Presiden Trump telah disesatkan oleh pihak luar, termasuk Israel dan media tertentu.
Pengunduran diri ini menjadi sinyal kuat adanya ketidakpuasan serius di dalam pemerintahan.
Dari kubu oposisi, kritik tajam juga dilontarkan oleh Senator Demokrat, Michael Bennet.
Ia menyoroti inkonsistensi sikap Trump yang sebelumnya mengkampanyekan kebijakan non-intervensi, namun kini justru mengambil langkah agresif di panggung global.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media