Nasional . 20/03/2026, 13:06 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Hari Raya Idulfitri bukan hanya tentang kemenangan batin, tetapi juga tentang bagaimana kita menunjukkan syiar Islam di ruang publik. Salah satu tradisi kenabian yang paling otentik namun mulai tergerus zaman adalah anjuran untuk berjalan kaki saat menuju tempat pelaksanaan salat Id.
Langkah kaki di pagi hari 1 Syawal ini bukan sekadar aktivitas fisik. Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat terdekat Rasulullah, menegaskan bahwa pola keberangkatan ini adalah bagian dari gaya hidup sang Nabi.
“Diriwayatkan dari Ali Ibnu Abi Thalib ia berkata: Merupakan sunnah bahwa engkau keluar untuk shalat Id dengan berjalan kaki dan makan sesuatu sebelum keluar.” (HR. at-Tirmidzi).
Hal yang paling menarik dari adab salat Id adalah instruksi untuk tidak melewati jalan yang sama saat berangkat dan kembali. Rasulullah SAW mencontohkan sebuah pola pergerakan yang dinamis. Jika berangkat melalui jalur A, maka saat pulang beliau akan memilih jalur B.
Mengapa demikian? Berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah, pola ini memiliki makna mendalam:
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi SAW apabila keluar pergi shalat Id, beliau kembali dengan melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi.” (HR. Ibnu Majah).
Secara praktis, strategi rute berbeda ini memungkinkan seorang muslim untuk bertemu dengan lebih banyak orang. Ini adalah momen emas untuk saling menebar salam, memohon maaf, dan memperkuat ikatan persaudaraan dengan jamaah yang mungkin tidak ditemui di jalur keberangkatan.
Selain nilai pahala yang dijanjikan, berjalan kaki menuju lapangan memiliki dampak sosial dan psikologis yang luar biasa:
• Syiar Takbir yang Masif: Langkah kaki yang santai memberikan kesempatan bagi jamaah untuk terus mengumandangkan takbir di sepanjang jalan, menciptakan atmosfer lebaran yang kental.
• Koneksi Sosial Tanpa Batas: Berjalan kaki memudahkan kita untuk berhenti sejenak, bertegur sapa, dan bersalaman dengan tetangga—hal yang sulit dilakukan jika menggunakan kendaraan bermotor.
• Detoks Fisik Ringan: Setelah sebulan berpuasa, jalan kaki di udara pagi yang segar menjadi pemanasan fisik yang sehat sebelum menikmati hidangan khas lebaran.
Islam menekankan bahwa Idulfitri adalah hari sosial. Dengan berjalan kaki dan berganti rute, sebenarnya sedang "memetakan" keberkahan di setiap sudut wilayah yang dilalui. Setiap langkah kaki dianggap sebagai saksi di hari akhir kelak atas ketaatan umat dalam merayakan hari besar ini.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media