Internasional . 23/03/2026, 12:02 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah mulai berdampak pada kesiapan logistik militer Amerika Serikat. Sebuah analisis terbaru dari tim interpretasi perang mengungkapkan bahwa armada kapal perusak (destroyer) milik Negeri Paman Sam yang terlibat dalam operasi militer terhadap Iran mulai menghadapi krisis amunisi.
Kecurigaan mengenai menipisnya cadangan senjata ini menguat setelah beredarnya citra satelit dan foto yang menunjukkan kapal selam AS meluncurkan rudal jelajah dari perairan dekat Cyprus. Langkah ini dinilai tidak lazim, mengingat misi ofensif utama sebelumnya lebih banyak dibebankan pada kapal-kapal perusak yang berada di garis depan.
Para pengamat militer menyebut fenomena ini sebagai indikasi kuat bahwa stok rudal jelajah pada kapal-kapal perusak, terutama kelas Arleigh Burke, telah terkuras secara signifikan atau setidaknya mengalami penurunan drastis dalam kemampuan ofensif harian.
Salah satu tantangan teknis paling krusial bagi Angkatan Laut AS adalah mekanisme pengisian ulang amunisi. Berbeda dengan pengisian bahan bakar, kapal jenis perusak dan kapal selam tidak dapat melakukan pengisian ulang rudal saat berada di tengah laut lepas.
Untuk mengisi kembali tabung peluncur vertikal (Vertical Launch System), kapal-kapal perang tersebut secara teknis harus kembali dan bersandar di pangkalan angkatan laut terdekat. Proses ini dipastikan akan menciptakan jeda atau pause dalam siklus operasional militer AS di kawasan tersebut.
Kondisi serupa diperkirakan tidak hanya terjadi pada aspek ofensif, tetapi juga mulai merambah ke sektor pertahanan udara (defensive domain). Mengingat intensitas serangan balasan yang masif, penggunaan interseptor untuk menghalau ancaman udara juga terus menguras sumber daya logistik armada laut tersebut.
Ketegangan besar ini meletus setelah serangkaian aksi militer yang melibatkan pembunuhan pemimpin tertinggi Iran serta beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada akhir Februari lalu. Kejadian tersebut memicu serangan udara ekstensif terhadap berbagai infrastruktur strategis di Iran.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan operasi balasan dengan mengirimkan gelombang rudal dan pesawat tanpa awak (drone) yang menargetkan posisi-posisi strategis AS dan Israel di kawasan. Intensitas saling serang yang sangat tinggi inilah yang diyakini menjadi penyebab utama cepatnya penyusutan stok amunisi canggih milik militer Amerika Serikat di medan tempur.
Hingga saat ini, pihak Pentagon belum memberikan komentar resmi mengenai laporan menipisnya amunisi kapal perang mereka. Namun, pergerakan armada di sekitar Mediterania dan Teluk Persia terus menjadi perhatian intelijen internasional.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media