Internasional . 24/03/2026, 09:42 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Pernyataan Trump pada Senin (23/3) dinilai sebagai bagian dari strategi untuk menenangkan pasar.
Fluktuasi harga yang terjadi bukan hal biasa. Sejak perang dimulai, pasar minyak mengalami volatilitas ekstrem.
Bahkan, empat dari enam pergerakan harga terbesar dalam sejarah kontrak berjangka Brent terjadi dalam periode konflik ini.
Analis dari PVM Oil Associates Ltd menyebut kondisi pasar saat ini sebagai:
“Pasar berada dalam kekacauan total.”
Hal ini menunjukkan betapa tingginya ketidakpastian yang dihadapi pelaku pasar energi global.
Selain mengklaim adanya pembicaraan damai, Trump juga sempat mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.
Ia:
Memberi tenggat waktu 48 jam untuk membuka kembali Selat Hormuz
Mengancam serangan terhadap fasilitas listrik Iran
Menyatakan kemungkinan pengurangan operasi militer AS
Langkah ini memperlihatkan strategi tekanan ganda: diplomasi sekaligus ancaman militer.
Analis dari SEB AB, Bjarne Schieldrop, menilai bahwa pernyataan Trump lebih bersifat upaya menekan harga daripada mencerminkan realitas di lapangan.
Menurutnya, keputusan membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya berada di tangan Iran.
Jika jalur tersebut kembali dibuka:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media