Internasional . 25/03/2026, 14:04 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Rencana ini disebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian aktivitas militer tertentu.
Namun, posisi Iran yang saat ini menguasai jalur strategis tersebut membuat negosiasi menjadi semakin kompleks.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian dunia dalam konflik ini.
Sekitar 20 persen pasokan minyak global biasanya melintasi jalur ini. Namun sejak konflik memanas, Iran secara efektif membatasi akses, sehingga memicu krisis energi global.
Langkah ini menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dan gangguan besar pada rantai pasok energi dunia.
Dalam dinamika diplomasi ini, Syed Asim Munir muncul sebagai mediator penting antara AS dan Iran.
Pemerintah Pakistan bahkan menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah perundingan jika kedua pihak sepakat untuk duduk bersama.
Peran ini menunjukkan pentingnya negara ketiga dalam meredakan konflik global.
Meski ada upaya diplomasi, situasi di lapangan masih memanas. Serangan udara oleh AS dan Israel terhadap Iran terus berlanjut sejak akhir Februari.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke berbagai target, termasuk wilayah yang memiliki kepentingan militer AS.
Konflik ini telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media