Internasional . 25/03/2026, 09:54 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Sementara itu, kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap memusuhi Iran berpotensi dibatasi atau bahkan dilarang melintas.
Sejumlah pejabat Iran menyebut penerapan tarif ini sebagai bagian dari strategi untuk membiayai beban perang dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.
Dengan konflik yang masih berlangsung, biaya militer dan gangguan keamanan maritim menjadi tantangan besar bagi Iran.
Melalui kebijakan ini, Iran mencoba mengubah tekanan menjadi peluang ekonomi dengan memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz.
Di tengah situasi ini, muncul analisis menarik dari seorang akademisi asal China, Xueqin Jiang, yang dijuluki sebagai “Nostradamus China”.
Ia memprediksi bahwa Iran berpotensi memenangkan konflik dan mendapatkan dana besar dari reparasi perang serta pendapatan dari tarif Selat Hormuz.
Menurut Jiang, dana tersebut bisa mencapai triliunan dolar dan akan digunakan untuk membangun kembali ekonomi Iran.
“Iran akan melakukan industrialisasi cepat, dan dalam 5–10 tahun bisa mengalami keajaiban ekonomi serta menjadi kekuatan besar dunia,” ujarnya dalam sebuah pemaparan.
Kebijakan Iran ini berpotensi menimbulkan dampak besar bagi ekonomi global, terutama pada sektor energi.
Beberapa dampak yang mungkin terjadi antara lain:
Kenaikan harga minyak dunia
Gangguan rantai pasokan energi
Ketegangan geopolitik yang semakin meningkat
Risiko inflasi di berbagai negara
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Setiap perubahan kebijakan di wilayah ini hampir pasti berdampak global. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media