Internasional . 26/03/2026, 14:29 WIB
Penulis : Rikhi Ferdian Herisetiana | Editor : Rikhi Ferdian Herisetiana
fin.co.id - Langit di atas Tel Aviv, Israel, berubah menjadi kelabu pekat pada Selasa (24/3/2026). Namun, itu bukanlah mendung biasa. Ribuan burung gagak terbang dalam koloni masif, berputar-putar di atas gedung-gedung tinggi, termasuk ikon kota Azrieli Towers. Fenomena ini menciptakan efek "awan hitam" yang bergerak dinamis, memicu decak kagum sekaligus ketakutan bagi warga yang menyaksikannya.
Kehadiran kawanan burung hitam ini terekam dalam berbagai video yang viral di media sosial. Di tengah situasi geopolitik yang kian membara antara Israel dan Iran, kemunculan ribuan burung pemakan bangkai ini memicu spekulasi bernada apokaliptik di kalangan netizen.
Simbolisme dan Ketakutan Kolektif
Bagi sebagian warga, fenomena ini bukan sekadar peristiwa alam. Di platform X, banyak pengguna mengaitkan kehadiran gagak tersebut dengan nubuat atau pertanda buruk. Dalam beberapa tradisi dan teks keagamaan, seperti Kitab Wahyu, kemunculan burung pemakan bangkai sering digambarkan sebagai pengiring setelah terjadinya perang besar dan kehancuran.
"Dalam banyak budaya, terbangnya jenis burung ini dilihat sebagai pertanda sesuatu yang besar akan terjadi," tulis salah seorang warganet.
Kecemasan ini bukannya tanpa alasan. Hingga pekan keempat konflik, ketegangan fisik masih terasa nyata. Di saat yang hampir bersamaan dengan fenomena burung tersebut, sirene peringatan serangan udara kembali meraung di Tel Aviv. Media lokal Yedioth Ahronoth melaporkan tiga gelombang serangan rudal dari Iran terdeteksi dalam waktu singkat, dengan serpihan intersepsi jatuh di 30 titik wilayah pusat dan utara Israel.
Penjelasan Rasional di Balik "Murmuration"
Meski narasi mistis berkembang pesat akibat stres kolektif masyarakat yang dilanda perang, para ahli ornitologi memberikan pandangan yang lebih membumi. Fenomena burung yang terbang bersama dalam jumlah besar dan pola yang rumit ini dikenal secara ilmiah sebagai murmuration.
Para pakar menjelaskan bahwa Tel Aviv dan wilayah Timur Tengah secara umum merupakan jalur utama migrasi bagi berbagai jenis burung. Faktor perubahan suhu ekstrem, migrasi musiman, hingga ketersediaan sumber makanan di area perkotaan menjadi pendorong utama perilaku ini.
Sebagai hewan yang cerdas dan sosial, gagak cenderung berkumpul dalam kelompok padat untuk melindungi diri dari predator atau berbagi informasi mengenai lokasi makanan. Gangguan pada habitat asli atau pola cuaca lokal juga diduga menjadi pemicu mengapa koloni ini muncul secara mencolok di atas pusat kota.
Refleksi di Tengah Konflik
Psikolog melihat bahwa kecenderungan manusia mencari makna atau "firasat" dalam fenomena alam sering kali diperkuat oleh kondisi psikologis yang tertekan. Di tengah dentuman rudal dan ketidakpastian keamanan, peristiwa alam yang rutin bisa berubah menjadi narasi besar mengenai akhir zaman.
Hingga saat ini, kehidupan di Tel Aviv terus berjalan di bawah bayang-bayang kecemasan. Sementara otoritas terkait memastikan tidak ada kerusakan infrastruktur vital meski asap tebal sempat terlihat di dekat pembangkit listrik Rabin, Hadera, warga tetap menengadah ke langit—mencoba membaca apakah yang terbang di atas mereka adalah sekadar migrasi rutin, ataukah pesan sunyi dari alam.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media