Ekonomi . 26/03/2026, 10:23 WIB
Penulis : Sigit Nugroho | Editor : Admin
Dengan posisi pejabat yang berdiri teguh mendukung pemimpin negara hingga tujuan perang tercapai, peluang terjadinya deeskalasi konflik nampaknya semakin menjauh.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan klaim Presiden AS Donald Trump sebelumnya yang menyebut dialog dengan Tehran berlangsung sangat produktif.
Bahkan, Trump sempat memerintahkan penundaan serangan pada infrastruktur energi, sebuah langkah yang kini tampaknya harus dipertimbangkan ulang.
Dampak langsung dari skeptisisme perdamaian ini adalah lonjakan harga emas hitam alias minyak mentah.
Saat ini, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sudah merangkak naik mencapai 91 dolar AS per barel.
Lebih ngeri lagi, minyak jenis Brent kini sudah bertengger kembali di atas level psikologis 100 dolar AS per barel.
Kenaikan harga komoditas energi ini menjadi beban berat bagi nilai tukar Rupiah yang sangat sensitif terhadap biaya impor migas.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan peringatan keras terkait kondisi ini.
Ia melihat adanya korelasi kuat antara ketegangan di Timur Tengah dengan tekanan pada mata uang domestik kita, Rupiah.
Menurutnya, pasar kini tidak lagi percaya begitu saja pada retorika damai yang belum terbukti secara konkret di lapangan.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh skeptisisme akan perdamaian di Timteng," ucap Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
"Harga minyak yang kembali naik juga membebani," tambahnya, menggarisbawahi ancaman ganda yang dihadapi Rupiah.
Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam melihat ancaman krisis energi yang mulai nyata di depan mata.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media