Internasional . 26/03/2026, 08:29 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Perkembangan terbaru terkait pandemi Covid-19 kembali menjadi perhatian setelah munculnya varian baru yang disebut BA.3.2 di Amerika Serikat.
Varian ini dilaporkan memiliki kemampuan untuk menghindari perlindungan dari vaksin yang saat ini digunakan, meski dampaknya terhadap tingkat keparahan penyakit masih terus diteliti.
Dikutip dari Independen, disebutkan bahwa BA.3.2 terdeteksi dari berbagai sumber, mulai dari usap hidung pelancong hingga sampel limbah.
Varian ini ditemukan pada empat pelancong Amerika, sembilan pasien klinis di sejumlah negara bagian, serta ratusan sampel air limbah di lebih dari 20 negara bagian. Temuan ini mengindikasikan bahwa penyebarannya kemungkinan jauh lebih luas dari yang terpantau saat ini.
Varian ini merupakan turunan dari Omicron dan pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan pada tahun 2024. Di Amerika Serikat, kasus awal terdeteksi pada Juni 2025 dari seorang pelancong asal Belanda. Sejak September 2025, penyebarannya mulai meningkat dan kini telah dilaporkan di 23 negara.
Secara evolusi, BA.3.2 memiliki kemiripan dengan varian BA.2.86 yang sebelumnya berkembang menjadi JN.1—varian dominan sepanjang tahun 2024. Namun, para peneliti menegaskan bahwa BA.3.2 secara genetik berbeda dari garis keturunan JN.1 yang selama ini beredar luas di Amerika Serikat.
Perbedaan genetik ini menjadi perhatian serius karena vaksin Covid-19 yang tersedia saat ini dirancang untuk menargetkan subvarian JN.1. Kondisi tersebut memunculkan kemungkinan perlunya pembaruan vaksin agar tetap efektif menghadapi varian baru.
BA.3.2 diketahui membawa sekitar 70 hingga 75 mutasi pada protein lonjakan (spike protein), bagian virus yang berfungsi untuk masuk ke dalam sel manusia. Banyaknya mutasi ini diduga membuat virus lebih mudah menular sekaligus lebih mampu menghindari sistem kekebalan tubuh.
Hasil studi laboratorium menunjukkan bahwa varian ini memiliki kemampuan lebih besar dalam menghindari antibodi yang dihasilkan oleh vaksin Covid-19. Para peneliti menyebut hal ini kemungkinan dipicu oleh perubahan pada struktur protein lonjakan.
“Vaksin mRNA Covid-19 adaptasi LP.8.1 tahun 2025–2026 menunjukkan perlindungan terhadap strain JN.1 yang saat ini dominan, tetapi memiliki netralisasi antibodi terendah terhadap BA.3.2 dalam studi laboratorium terhadap tujuh varian, yang berpotensi memengaruhi perlindungan yang diberikan oleh vaksin,” kata para peneliti dikutip Independen.
Meski demikian, tingkat kekhawatiran terhadap varian ini masih perlu dikaji lebih lanjut. BA.3.2 memang telah ditemukan di banyak negara bagian di AS, termasuk California, New York, Texas, hingga Florida. Namun, varian ini belum menjadi varian dominan.
Selain itu, data sementara menunjukkan bahwa infeksi akibat BA.3.2 tidak lebih parah dibandingkan varian lainnya. Beberapa kasus yang terdeteksi pada pasien rumah sakit terjadi pada Desember dan Januari di tiga negara bagian. Pasien tersebut terdiri dari dua lansia dengan penyakit penyerta dan satu anak kecil.
Seluruh pasien dilaporkan selamat. Peneliti juga menegaskan bahwa keberadaan varian ini pada pasien rawat inap tidak otomatis menunjukkan bahwa BA.3.2 menyebabkan penyakit yang lebih serius.
Di sisi lain, para ilmuwan mengingatkan bahwa Covid-19 kini telah menjadi penyakit endemik, sehingga mutasi virus akan terus terjadi. Saat ini, terdapat puluhan varian yang masih beredar di berbagai wilayah dunia.
Ahli virologi Angela Rasmussen menekankan pentingnya mengurangi peluang virus untuk terus bereplikasi.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media