Ekonomi . 31/03/2026, 09:28 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Pemerintah Indonesia tengah mematangkan langkah besar untuk mencapai swasembada energi dengan mengembangkan bahan bakar campuran etanol 20 persen atau E20. Kebijakan ini menjadi strategi krusial untuk memperkuat ketahanan nasional di tengah ketidakpastian pasokan minyak global akibat eskalasi perang di kawasan Timur Tengah.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Indonesia sedang berupaya mereplikasi kesuksesan Brasil yang telah berhasil mengimplementasikan campuran etanol hingga 27 persen (E27). Produksi bensin E20 ini nantinya akan memanfaatkan komoditas lokal seperti jagung, ubi, hingga tebu yang tumbuh subur di seluruh wilayah nusantara.
Kementerian Pertanian menjamin ketersediaan lahan dan stok tanaman pendukung untuk menyokong program ini. Amran menyoroti potensi besar molase atau tetes tebu sebagai bahan baku utama etanol yang selama ini justru lebih banyak diekspor. Saat ini, angka ekspor molase Indonesia mencapai 1 juta ton, yang jika diolah secara domestik mampu memproduksi sekitar 100 ribu ton etanol.
"Mimpi kita adalah E20. Semua bahan bakunya ada di Indonesia, mulai dari jagung hingga tebu. Jika kita konsisten menjalankan program ini dalam sepuluh tahun ke depan, kemandirian energi bukan lagi sekadar impian," ujar Amran dalam konferensi pers di Jakarta, Senin 30 Maret 2026.
Program E20 diproyeksikan bakal menggeser peran BBM fosil yang selama ini mendominasi pasar domestik. Amran mengonfirmasi bahwa bensin campuran etanol ini dipersiapkan untuk menggantikan jenis Pertalite dan Pertamax. Langkah ini sejalan dengan keberhasilan Indonesia sebelumnya yang telah menghentikan impor Solar melalui pengembangan biofuel berbasis sawit atau B50.
Capaian penyetopan impor Solar sebanyak 5,3 juta ton tahun ini menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi sektor energi nabati memberikan dampak instan pada devisa negara. Amran menambahkan bahwa kemandirian pangan dan energi, ditambah dengan hilirisasi mineral seperti nikel dan bauksit, akan menempatkan Indonesia sebagai pemain utama di kancah dunia.
Pemerintah memandang memanasnya situasi geopolitik dunia sebagai momentum untuk mempercepat transisi energi. Dengan memproduksi bahan bakar secara mandiri, posisi tawar Indonesia di tingkat global akan semakin kuat dan tidak lagi bergantung pada dinamika pasar minyak internasional yang fluktuatif.
Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pertanian terus berkoordinasi intensif dengan BUMN Pangan guna memastikan rantai pasok bahan baku tetap stabil. Upaya ini diharapkan tidak hanya menciptakan ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi petani jagung, ubi, dan tebu di seluruh Indonesia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media