Viral . 03/04/2026, 18:52 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Surat tersebut berisi keberatan atas mutasi serta permohonan agar ia tetap melanjutkan penyidikan kasus korupsi pengadaan tas ramah lingkungan di Minahasa.
Namun hingga pengunduran dirinya disahkan, surat tersebut tidak mendapatkan respons.
“Tidak ada balasan. Mungkin tidak sampai,” ujar Vicky.
Hal inilah yang kemudian memicu spekulasi luas di masyarakat.
Kasus yang ditangani Vicky menjadi sorotan karena melibatkan dugaan korupsi dengan nilai besar serta tokoh penting di Minahasa. Berikut alur singkatnya:
Dalam video yang viral, Vicky Katiandagho menyampaikan dugaan adanya faktor non-teknis yang menghambat penyidikan.
“Kabar terakhir yang saya dengar, jaksa penuntut umum sudah mengirim surat P17 kepada penyidik untuk menanyakan perkembangan perkara. Namun karena menurut jaksa perkara sudah tidak ditangani, maka jaksa telah mengembalikan SPDP kepada penyidik. Perkara itu tidak berjalan lagi, karena ada faktor kedekatan antara pihak-pihak terkait dalam pengadaan tas ramah lingkungan dengan salah satu pejabat utama di Polda Sulut,” tegas Vicky Katiandagho dalam rekaman video yang viral pada Kamis, 2 April 2026.
Pernyataan ini memicu reaksi publik luas dan memperkuat narasi tentang tantangan dalam penegakan hukum.
Keputusan mundur Vicky menjadi semakin emosional setelah video perpisahannya beredar di media sosial.
Dalam video tersebut, ia tampak menangis saat memeluk putrinya di depan gedung utama Polda Sulawesi Utara.
Momen perpisahan Vicky di depan Mapolda Sulut yang viral di media sosial memperlihatkan sisi manusiawi seorang polisi jujur.
Sambil memeluk putrinya dengan linangan air mata, Vicky menegaskan ia lebih memilih kehilangan jabatannya di kepolisian daripada mengkhianati nuraninya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media