Internasional . 06/04/2026, 08:23 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Paus Leo XIV memimpin Misa Paskah pertamanya sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia dengan seruan mendalam untuk mengakhiri kekerasan. Di hadapan sekitar 50.000 jemaat yang memadati Lapangan Santo Petrus, Minggu 5 April 2026, pontifex asal Amerika Serikat pertama dalam sejarah ini meminta para pemimpin dunia untuk meletakkan senjata dan mengutamakan dialog.
Dalam berkat Urbi et Orbi yang disampaikannya, Paus berusia 70 tahun tersebut menyoroti dampak mengerikan dari konflik bersenjata, termasuk perang AS-Israel di Iran yang telah memasuki bulan kedua, serta krisis berkepanjangan di Ukraina. Berbeda dari tradisi sebelumnya, Paus Leo memilih untuk tidak merinci daftar konflik negara per negara, melainkan fokus pada transformasi hati dan kemanusiaan.
"Biarkan mereka yang memiliki senjata meletakkannya! Biarkan mereka yang memiliki kekuatan untuk menyulut perang memilih perdamaian! Bukan perdamaian yang dipaksakan dengan kekerasan, melainkan melalui dialog," tegas Paus Leo XIV dalam pesannya yang emosional.
Paus Leo XIV membangkitkan kembali beberapa praktik yang sempat memudar di era pendahulunya, mendiang Paus Fransiskus. Ia menyapa umat dalam 10 bahasa berbeda, termasuk bahasa Arab dan Mandarin. Selain itu, ia menunjukkan kekuatan fisik dengan memimpin seluruh 14 stasi Jalan Salib pada Jumat Agung serta mengembalikan tradisi pembasuhan kaki para imam pada Kamis Putih sebagai bentuk dukungan kepada klerus.
Paus juga secara khusus mengutip mendiang Paus Fransiskus yang wafat pada Senin Paskah tahun lalu, mengingatkan dunia akan "kehausan besar akan kematian" yang disaksikan setiap hari akibat kebencian dan perpecahan. Sebagai langkah konkret, Vatikan mengumumkan akan menggelar doa bersama untuk perdamaian pada 11 April mendatang di Basilika Santo Petrus.
Sementara itu, umat Kristiani di Yerusalem merayakan Paskah dalam suasana yang sunyi. Otoritas keamanan membatasi jumlah pertemuan publik di Gereja Makam Kudus menyusul ancaman serangan rudal yang masih berlangsung. Kondisi serupa juga melanda perayaan lintas agama lainnya seperti Ramadan dan Paskah Yahudi (Passover).
Kabar baik datang dari Jalur Gaza. Komunitas kecil Kristen Palestina di Gereja Keluarga Kudus dapat merayakan Paskah pertama mereka setelah pemberlakuan gencatan senjata. Kegembiraan nampak jelas saat umat mengantre untuk mencium sketsa Yesus sebagai simbol syukur setelah hampir tiga tahun kesulitan merayakan hari besar keagamaan.
Di Teheran, Iran, umat Kristen Armenia juga tetap menjalankan ibadah di Katedral St. Sarkis meskipun serangan udara terus membayangi kota tersebut dalam lima minggu terakhir.
"Doa dan harapan kami adalah agar perang ini segera berakhir," ujar Uskup Agung Sepuh Sargsyan dari Keuskupan Armenia Teheran.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media