Ekonomi . 07/04/2026, 13:10 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id - Pasar aset kripto di Indonesia menunjukkan performa yang sangat fluktuatif dalam lima tahun terakhir. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan terjadinya penyusutan nilai transaksi yang cukup signifikan pada tahun 2025. Meskipun tren adopsi masyarakat terhadap aset digital terus meningkat, nilai transaksi justru merosot hingga 25,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK, Adi Budiarso, memaparkan bahwa total transaksi kripto pada tahun lalu menyentuh angka 482,23 triliun rupiah. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 168,23 triliun rupiah dari pencapaian tahun 2024 yang sempat menembus 650,61 triliun rupiah. Fenomena ini menjadi pengingat bagi para investor mengenai tingginya risiko volatilitas di pasar keuangan digital.
Penurunan tajam transaksi ini tidak lepas dari pengaruh situasi internasional yang memanas. Faktor eksternal menjadi pemicu utama meningkatnya kekhawatiran para pemilik modal untuk tetap menempatkan dananya di aset berisiko tinggi.
Beberapa faktor global yang menghantam pasar kripto antara lain:
Eskalasi Konflik: Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menciptakan ketidakpastian besar di pasar global.
Suku Bunga Tinggi: Kebijakan moneter ketat dengan suku bunga tinggi di Amerika Serikat memicu pengetatan likuiditas secara masif.
Likuidasi Besar-besaran: Kondisi ekonomi yang tidak menentu memaksa banyak investor melakukan likuidasi pada posisi leverage mereka di pasar kripto.
"Kondisi ini diperkuat juga oleh pengetatan kebijakan moneter suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan kecenderungan mengurangi likuiditas di tingkat global," jelas Adi dalam acara Bulan Literasi Kripto di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Selain faktor ekonomi makro, sisi teknikal pasar kripto juga sedang mengalami tekanan akibat siklus empat tahunan yang dikenal sebagai Bitcoin Halving. Akumulasi sentimen ini menyebabkan pelemahan harga secara global dan berimbas langsung pada volume transaksi di pasar domestik Indonesia.
OJK mencatat bahwa kapitalisasi pasar (market cap) kripto global mengalami koreksi dalam yang cukup menyakitkan. Dari puncaknya yang mencapai 4,2 triliun rupiah pada Oktober 2025, angka tersebut ambruk menjadi sekitar 2,3 triliun rupiah pada Maret 2026, atau turun sekitar 45 persen.
Melihat situasi ini, otoritas mendorong para pelaku industri dan investor untuk kembali fokus pada nilai fundamental aset. Penurunan harga dan volume transaksi saat ini seharusnya menjadi momentum untuk menyeimbangkan antara tantangan risiko dan peluang jangka panjang.
"Saya mendorong bahwa kita semua bisa melihat harga ini dengan seksama, dari cerminan harga global. Penurunan ini adalah tantangan sekaligus peluang bagi mereka yang memahami fundamental," ungkap Adi Budiarso sebagai penutup.
Investasi di sektor keuangan digital memerlukan kecermatan ekstra dalam membaca sentimen pasar. Dengan kondisi dunia yang masih penuh ketidakpastian, para investor diimbau untuk tetap waspada dan tidak hanya mengejar keuntungan sesaat tanpa perhitungan risiko yang matang.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media