Ekonomi . 08/04/2026, 21:34 WIB

Harga Plastik Naik 100 Persen! Ini Penyebab, Dampak & Prediksi Turunnya

Penulis : Rizal Husen  |  Editor : Rizal Husen

Fin.co.id - Harga material plastik di pasar domestik pada April 2026 dilaporkan meroket signifikan. Kenaikannya mencapai rentang 80 hingga 100 persen.

Situasi ini menjadi alarm keras bagi pelaku usaha, terutama UMKM yang sangat bergantung pada kemasan plastik untuk keberlangsungan produk mereka.

Berdasarkan pantauan pasar terbaru, harga plastik kresek kini menyentuh angka Rp15.000 hingga Rp25.000 per pak, tergantung ukuran dan kualitas.

Sementara itu, plastik jenis PE bening yang biasa digunakan untuk pengemasan makanan kiloan kini dibanderol di kisaran Rp6.500 hingga Rp12.300.

Kenaikan ini dipicu oleh kelangkaan pasokan global yang sangat ekstrem.

Daftar Harga Plastik Terbaru (Update April 2026)

  • Plastik Kresek: Rp15.000 - Rp25.000 per pak (Naik tajam).
  • Plastik PE Bening (Kiloan): Rp6.500 - Rp12.300 per pak.
  • Plastik Sampah (Trash Bag): Rp19.000 - Rp30.250 per pack.
  • Plastik Packing Online Shop: Mulai dari Rp220 per lembar.

Penyebab utama di balik "badai" harga ini adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Ketegangan antara kekuatan besar di kawasan tersebut telah melumpuhkan distribusi energi di Selat Hormuz, jalur nadi perdagangan minyak dunia.

Akibatnya, harga minyak mentah melambung dan memicu kenaikan harga Nafta (Naphtha), yang merupakan bahan baku utama pembuatan etilena dan propilena sebagai fondasi plastik.

"Industri plastik nasional saat ini menghadapi tantangan besar karena sekitar 70 persen bahan baku kita masih sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Gejolak di sana langsung memukul rantai pasok dalam negeri," ungkap Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas).

Ancaman Serius UMKM & Daya Beli Konsumen

Kenaikan harga plastik bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi struktur biaya produksi.

  1. Tekanan Margin UMKM: Pelaku usaha makanan dan minuman kini harus memilih antara menaikkan harga jual produk atau memangkas margin keuntungan yang sudah tipis akibat mahalnya biaya kemasan.
  2. Efisiensi Industri Manufaktur: Perusahaan skala besar mulai melakukan penyesuaian strategi, termasuk mencari material alternatif dan memangkas kapasitas produksi untuk menjaga stabilitas arus kas.
  3. Efek Domino ke Konsumen: Kenaikan biaya operasional ini diprediksi akan dibebankan kepada konsumen akhir, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat secara luas di tengah inflasi yang membayangi.

Menanggapi krisis pasokan dari Timur Tengah, pelaku industri mulai mengalihkan impor nafta ke wilayah alternatif seperti Amerika Serikat, Asia Tengah, hingga Afrika. Namun, solusi ini bukan tanpa kendala.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com