Nasional . 09/04/2026, 11:49 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur ini tercatat mengalami empat kali erupsi dalam satu hari pada Kamis. Tinggi kolom letusan bervariasi, mulai dari 800 meter hingga mencapai satu kilometer di atas puncak.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 00.21 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 900 meter di atas puncak. Aktivitas ini langsung terekam melalui alat pemantau.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, menjelaskan karakteristik letusan tersebut. Ia menyebutkan bahwa abu vulkanik tampak berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang mengarah ke timur laut.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut dan erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi 122 detik,” ujar Sigit dalam laporan tertulis.
Tak berselang lama, aktivitas kembali meningkat. Erupsi kedua terjadi pada pukul 03.27 WIB dengan tinggi kolom letusan mencapai satu kilometer. Pola sebaran abu masih serupa, yakni mengarah ke timur laut dengan intensitas tebal. Data seismograf menunjukkan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi letusan selama 160 detik.
Selanjutnya, erupsi ketiga terjadi pada pukul 04.30 WIB. Meski tinggi kolom abu sedikit lebih rendah, sekitar 800 meter di atas puncak, karakteristik abu tetap konsisten, yaitu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Aktivitas ini juga terekam dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 112 detik.
Gunung Semeru belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada pukul 06.10 WIB, erupsi keempat kembali terjadi. Kali ini, tinggi kolom letusan kembali mencapai satu kilometer di atas puncak. Arah sebaran abu berubah ke barat laut dengan warna kelabu pekat.
“Pada pukul 06.10 WIB terjadi erupsi lagi dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar satu kilometer di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat laut dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 169 detik,” jelasnya.
Melihat intensitas aktivitas tersebut, status Gunung Semeru saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Kondisi ini membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat sekitar.
PVMBG secara tegas melarang aktivitas warga di sektor tenggara, khususnya sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak. Area ini dinilai sangat berbahaya karena berpotensi terdampak langsung oleh awan panas dan aliran material vulkanik.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Risiko perluasan awan panas dan aliran lahar bisa mencapai hingga 17 kilometer dari puncak, sehingga zona ini masuk kategori rawan tinggi.
Tak hanya itu, larangan juga berlaku untuk radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Area tersebut berpotensi terkena lontaran batu pijar yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Sigit juga mengingatkan bahwa potensi bahaya tidak hanya berasal dari erupsi langsung. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lain seperti awan panas guguran, aliran lava, hingga lahar yang dapat mengalir melalui sungai-sungai berhulu di puncak.
Wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, sungai-sungai kecil yang menjadi anak dari Besuk Kobokan juga berpotensi menjadi jalur lahar.
Dengan kondisi aktivitas yang masih tinggi, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari otoritas terkait. Kepatuhan terhadap rekomendasi menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko bencana.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media