Internasional . 13/04/2026, 14:51 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Teknologi ini telah digunakan oleh Uni Emirat Arab dalam operasi militer sebelumnya untuk menjatuhkan amunisi yang berasal dari Iran.
Selain sistem M-SAM, Uni Emirat Arab juga dikabarkan meminta tambahan rudal pencegat dari perusahaan Korea Selatan guna memperkuat sistem pertahanan udara mereka.
Menariknya, negara-negara Teluk tidak hanya mencari solusi dari negara besar. Mereka juga mulai melirik teknologi dari perusahaan rintisan (startup) di sektor pertahanan.
Salah satu perusahaan yang disebut sedang menjalin kerja sama adalah Cambridge Aerospace dari Inggris.
Perusahaan ini mengembangkan rudal kecil berbiaya rendah yang dirancang khusus untuk menghancurkan drone dan amunisi ringan. Teknologi tersebut dinilai cocok menghadapi serangan drone massal yang semakin sering terjadi dalam konflik modern.
Pemerintah Inggris bahkan menyatakan bahwa perusahaan tersebut akan memasok teknologi pertahanan kepada negara-negara Teluk dalam waktu dekat.
Pergeseran strategi pertahanan ini juga dipicu oleh keterbatasan kapasitas industri senjata Amerika Serikat dalam memenuhi lonjakan permintaan global.
Sejak perang di Ukraina, permintaan sistem pertahanan udara meningkat drastis di berbagai negara.
Analis pertahanan internasional menyebut bahwa industri militer AS memang mulai berinvestasi untuk meningkatkan kapasitas produksi. Namun peningkatan tersebut masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan global dalam waktu cepat.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat sebenarnya tetap melanjutkan penjualan senjata dalam jumlah besar ke negara-negara Timur Tengah.
Nilai penjualan senjata tersebut mencapai sekitar 23 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar Rp393 triliun.
Paket tersebut mencakup berbagai sistem pertahanan udara, radar, serta rudal Patriot PAC-3.
Namun masalah utama terletak pada waktu pengiriman yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Selain itu, hampir 20 negara di dunia saat ini menggunakan sistem Patriot, sehingga persediaan globalnya mulai menipis akibat kebutuhan perang di Ukraina.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media