Nasional . 13/04/2026, 22:44 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Memasuki Desember 2025, drama berlanjut. Dalam sistem SPSE Inaproc, kedua paket tersebut (Kode: 10519612000 dan 10519550000) dinyatakan "SUDAH SELESAI" tepat pada 31 Desember 2025.
Secara administratif, berarti pekerjaan sudah beres 100% dan Berita Acara Serah Terima (BAST) telah diteken.
Namun, saat publik mencoba mengecek siapa perusahaan yang beruntung mendapatkan "durian runtuh" ini, hasilnya nihil:
Bagaimana mungkin pekerjaan bernilai triliunan rupiah sudah dinyatakan selesai, namun vendornya "gaib" dan realisasi pembayarannya nol?
Muncul kecurigaan kuat ini adalah trik administratif untuk mengamankan anggaran agar tidak hangus (menjadi SiLPA). Sementara identitas penyedia sengaja disembunyikan dari pengawasan publik.
Memasuki April 2026, jejak digital semakin memperlihatkan kecurigaan. Di Dashboard Monitoring INAPROC, angka Rp1,27 triliun tersebut masih tercantum dalam kolom "BELUM TEREALISASI".
Ini adalah kontradiksi total yang sangat ekstrem:
Sebagai informasi tambahan, dari total Rp6,3 triliun realisasi pengadaan BGN tahun 2025, sektor Jasa Lainnya memakan porsi terbesar yakni Rp4,53 triliun.
Hingga berita ini diturunkan, BGN belum memberikan klarifikasi atau tanggapan resmi terkait proyek IT senilai Rp1,26 Triliun tersebut.
Banyak pihak mendesak agar seluruh belanja pengadaan BGN tahun 2026 (dengan pagu fantastis Rp260,8 triliun) dibekukan sementara. Tujuannya agar dapat diaudit secara fair dan disampaikan ke publik.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media