Internasional . 13/04/2026, 17:17 WIB

Perundingan Damai AS–Iran Mandek, PBNU dan Paus Leo XIV Serukan Solidaritas Global

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menyampaikan penyesalannya atas tidak tercapainya kesepakatan dalam perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk umat lintas agama, untuk bersatu dalam upaya menciptakan perdamaian demi keselamatan manusia di seluruh dunia.

"Mengajak segenap umat semua agama untuk menggalang solidaritas dalam perjuangan bersama untuk keselamatan, kesentosaan, dan kesejahteraan seluruh umat manusia," ujar KH Yahya Cholil Staquf di Jakarta, Senin, 13 April 2026.

Gus Yahya juga memberikan apresiasi kepada Paus Leo XIV yang konsisten menyerukan pentingnya perdamaian dan dialog antarnegara. "Mengapresiasi seruan Paus Leo XIV untuk dengan sabar memperjuangkan terwujudnya koeksistensi damai," katanya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar proses dialog damai tidak berhenti dan bisa kembali dilanjutkan. Ia berharap Pakistan tetap memainkan peran strategis sebagai mediator dalam mempertemukan pihak-pihak yang berselisih.

"Mengapresiasi peran Pakistan dan mengharap Pakistan melanjutkan upaya membawa pihak-pihak ke meja perundingan," ujarnya.

Selain itu, Gus Yahya juga meminta Indonesia, termasuk Presiden Prabowo Subianto, untuk berkontribusi aktif dalam menggalang dukungan global demi menghentikan konflik dan mendorong jalan damai.

"Meminta Pemerintah Indonesia dan Presiden Prabowo ikut menggalang desakan internasional bagi dihentikannya kekerasan, ditempuhnya jalan damai, dan konsolidasi internasional untuk mengatasi dampak perang berupa dukungan terhadap korban-korban, terutama korban sipil, dan penanganan atas dampak ekonomi yang meluas," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak perang bersifat menyeluruh dan dirasakan oleh semua pihak, sehingga penghentian kekerasan harus menjadi prioritas utama.

"Untuk itu, harus diupayakan pembatasan pihak-pihak yang terlibat konflik dan tidak memperluasnya karena semakin luas pihak-pihak yang berkonflik, semakin sulit diselesaikan," pungkasnya.

Sebelumnya, Gus Yahya telah memulai langkah untuk memperkuat ketahanan sosial di tengah dinamika global. Upaya tersebut diwujudkan melalui pertemuan dengan Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo, pada Jumat, 10 April 2026, sebagai bagian dari penguatan kerja sama lintas agama.

Ketua PBNU, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut difokuskan pada peningkatan ketahanan sosial masyarakat di tingkat akar rumput dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global.

"Ketum menyampaikan inisiasi yang beberapa hari ini sedang difokuskan oleh PBNU yaitu terkait dengan penguatan ketahanan sosial di tingkat akar rumput. Ketum menyampaikan bagaimana ketidakpastian global geopolitik itu pasti akan membawa banyak sekali dampak bahkan kepada Indonesia dari berbagai faktor," kata Alissa Wahid.

Ia menambahkan bahwa pertemuan itu juga membuka peluang kolaborasi konkret, khususnya dalam penguatan ekonomi dan sosial masyarakat di lapisan bawah.

"Yang dibicarakan tadi adalah peluang-peluang kerjasama, kerjasama peningkatan sosial ekonomi, kerjasama di tingkat akar rumputnya sehingga dari kerjasama ini harapannya warga itu bisa menjadi lebih tangguh menghadapi bencana, menghadapi tantangan dan dinamika apapun begitu," pungkasnya.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com