Politik . 14/04/2026, 11:36 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Wacana penyatuan antara Partai Gerindra dan Partai NasDem dinilai tidak hanya akan mengubah peta kekuasaan nasional, tetapi juga berdampak langsung pada peluang tokoh oposisi seperti Anies Baswedan dalam kontestasi Pilpres 2029.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menilai, jika merger atau pembentukan blok permanen benar terjadi, maka posisi Anies akan semakin kompleks. Selama ini, kata dia, NasDem dikenal sebagai salah satu pilar utama yang menopang basis dukungan politiknya.
“Ketika NasDem bergeser masuk dalam penyatuan dengan Partai Gerindra, Anies kehilangan salah satu fondasi penting. Ini membuat peluangnya di 2029 berada di persimpangan,” kata Arifki dalam keterangannya, Selasa, 14 April 2026.
Ia menjelaskan, dalam sistem politik Indonesia yang sangat bergantung pada dukungan partai, keberadaan kendaraan politik menjadi faktor krusial bagi keberlanjutan elektoral seorang figur. Meski Anies kerap dikaitkan dengan Partai Gerakan Rakyat, tantangan verifikasi pemilu tetap menjadi hambatan awal yang harus dihadapi.
Selain itu, Arifki juga menyoroti potensi dinamika internal jika merger benar-benar terjadi. Menurutnya, penyatuan dua partai besar hampir pasti memunculkan faksi-faksi baru yang bisa memengaruhi arah kebijakan strategis.
Ia mengingatkan bahwa secara historis, Prabowo Subianto dan Surya Paloh sama-sama berasal dari Partai Golkar, namun memilih membentuk kendaraan politik masing-masing akibat dinamika internal yang kuat.
“Artinya, jika dua entitas yang lahir dari pengalaman fragmentasi tersebut kembali disatukan, potensi reproduksi konflik internal bukan tidak mungkin terjadi dalam bentuk baru,” ujarnya.
“Merger bukan hanya menyatukan kekuatan, tetapi juga kepentingan. Di situlah faksi-faksi akan muncul, dan ini bisa memengaruhi arah keputusan strategis, termasuk dalam penentuan dukungan capres,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai karakter progresif NasDem pada Pemilu 2024—yang mengusung agenda perubahan—berpotensi mengalami penyesuaian jika bergabung dalam blok kekuasaan yang lebih besar.
Dalam konteks ini, NasDem dinilai menghadapi dilema: tetap menjadi kekuatan alternatif atau bertransformasi menjadi bagian dari arus utama kekuasaan. Jika merger terealisasi, peluang memanfaatkan skenario ambang batas nol persen pada Pilpres 2029 juga bisa tertutup.
“Jika bertahan dalam blok kekuasaan, ruang untuk mengusung figur seperti Anies menjadi terbatas. Namun jika memilih keluar, NasDem harus mampu membangun basis politik baru di luar kekuasaan sebagai bekal menuju 2029,” ujarnya.
Arifki menegaskan bahwa wacana merger Partai Gerindra dan Partai NasDem bukan sekadar konsolidasi kekuatan politik, tetapi juga membuka berbagai ketidakpastian baru dalam lanskap politik nasional—termasuk masa depan Anies Baswedan pada Pilpres 2029.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media