Internasional . 15/04/2026, 08:04 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru yang sangat berisiko. Para diplomat kini bekerja keras melalui saluran belakang (back channels) untuk mengupayakan negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah darurat ini muncul tepat setelah Washington resmi mengaktifkan blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran.
Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bahwa putaran kedua pembicaraan kemungkinan besar terlaksana dalam waktu dekat. Ia menyebut Islamabad, ibu kota Pakistan, sebagai lokasi potensial untuk memulai kembali meja perundingan yang sempat buntu pada akhir pekan lalu.
Langkah militer Amerika Serikat di Selat Hormuz mulai berdampak nyata terhadap arus perdagangan energi dunia. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan tidak ada kapal yang berhasil menembus barikade dalam 24 jam pertama. Setidaknya enam kapal dagang memilih putar balik ke pelabuhan Iran di Teluk Oman setelah mendapatkan peringatan keras dari pasukan Amerika.
Menteri Treasury AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan kelonggaran, termasuk bagi kapal tanker asal Tiongkok. "Mereka tidak akan bisa mendapatkan minyak mereka," tegas Bessent dalam keterangannya kepada pers.
Di sisi lain, Presiden Tiongkok Xi Jinping melontarkan kritik terbuka terhadap kebijakan tersebut. Ia mendesak negara-negara dunia untuk menentang kemunduran tatanan internasional yang menyerupai "hukum rimba" dan meminta penguatan multilateralisme sejati.
"Negara-negara harus bekerja sama untuk menjaga multilateralisme yang tulus dan menolak retrogresi dunia ke hukum rimba," ungkap Xi Jinping menanggapi situasi blokade tersebut.
Di tengah ancaman perang besar, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di Washington. Duta Besar Israel dan Lebanon menggelar pertemuan langsung pertama dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun kedua negara secara teknis masih dalam status perang sejak 1948, Departemen Luar Negeri AS menyebut pertemuan ini berlangsung produktif.
Duta Besar Israel, Yechiel Leiter, menyatakan bahwa kedua belah pihak memiliki kesamaan pandangan dalam upaya membebaskan Lebanon dari pengaruh milisi Hezbollah. Namun, Duta Besar Lebanon, Nada Hamadeh Moawad, tetap menekankan urgensi penghentian konflik bersenjata sesegera mungkin guna memulangkan lebih dari satu juta warga Lebanon yang mengungsi sejak Maret lalu.
Perang yang kini memasuki minggu ketujuh telah mengguncang pasar global secara hebat. Penutupan efektif Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia, memicu lonjakan harga energi dan kebutuhan pokok di berbagai belahan bumi.
Berikut adalah gambaran dampak konflik yang telah terdata hingga pertengahan April 2026:
Korban Jiwa: Setidaknya 3.000 orang tewas di Iran dan 2.100 jiwa melayang di Lebanon.
Kerugian Militer: Sebanyak 13 anggota layanan AS dilaporkan gugur dalam menjalankan tugas.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media