Nasional . 17/04/2026, 13:28 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Teka-teki penyebab jatuhnya helikopter Airbus H130 PK-CFX di kawasan hutan Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, mulai menemui titik terang melalui analisis pakar. Masyarakat Transportasi Udara Indonesia (MTUI) wilayah Kalbar menduga kuat bahwa faktor kegagalan mekanis menjadi pemicu utama musibah yang menelan korban jiwa tersebut.
Ketua MTUI Kalbar, Syarif Usmulyani Alqadrie, menegaskan bahwa dari lima parameter utama penyebab kecelakaan udara, faktor cuaca dapat dikesampingkan dalam insiden ini. Berdasarkan data lapangan dan kesaksian di lokasi, kondisi langit Sekadau saat kejadian dilaporkan sangat cerah tanpa gangguan atmosfer ekstrem.
"Kondisi cuaca saat helikopter jatuh dilaporkan cerah. Oleh karena itu, perhatian kini tertuju pada aspek mechanical maintenance atau pemeliharaan mekanik pesawat," ungkap Syarif di Pontianak, Jumat, 17 April 2026.
Berdasarkan pengamatan visual pada rekaman yang beredar, Syarif menganalisis adanya ketidakberesan pada sistem penggerak utama. Ia menyoroti bagian main rotor atau baling-baling tengah yang menjadi jantung stabilitas helikopter.
Ia menjelaskan bahwa posisi helikopter saat jatuh tidak menunjukkan gejala terjun bebas secara mendadak. Pesawat terlihat masih melakukan upaya manuver pendaratan darurat, yang mengindikasikan mesin atau sistem mekanikal penggerak mengalami malfungsi di tengah penerbangan rute Melawi menuju Kubu Raya tersebut.
Syarif memberikan estimasi bahwa kontribusi kesalahan manusia (human factor) dalam tragedi ini relatif kecil, yakni hanya sekitar 10 persen. "Dominasi penyebab lebih mengarah pada aspek teknis. Riwayat perawatan, kelayakan mesin, hingga sistem mekanikal sebelum terbang harus ditelusuri secara mendalam oleh otoritas terkait," tambahnya.
Selain menyoroti masalah teknis pesawat, pakar penerbangan ini juga mengkritik prosedur penanganan darurat yang dinilai lambat. Helikopter PK-CFX tercatat melakukan komunikasi terakhir pukul 08.34 WIB, namun status hilangnya kontak baru tertangani secara masif setelah dua jam berlalu.
Syarif menilai koordinasi komunikasi antara operator pesawat dan pihak AirNav perlu mendapat evaluasi total. Menurut standar keselamatan penerbangan internasional, kehilangan kontak selama lima hingga sepuluh menit seharusnya sudah memicu alarm peringatan serius bagi otoritas navigasi udara untuk segera melakukan respons cepat.
"Kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi sistem komunikasi dan koordinasi darurat agar respons terhadap kecelakaan di masa depan bisa lebih cepat," tegas Syarif. Ia berharap investigasi resmi yang dilakukan KNKT nantinya mampu mengungkap detail kerusakan komponen guna mencegah kejadian serupa terulang kembali di langit Kalimantan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media