Internasional . 17/04/2026, 17:54 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
fin.co.id - Di tengah memanasnya hubungan politik global, sebuah unggahan dari akun resmi Kedubes Iran justru mencuri perhatian dunia. Bukan karena ancaman, melainkan karena humor tajam yang sulit diabaikan.
Menggunakan gaya trolling yang elegan dan satire yang tajam, Kedubes Iran untuk Ghana secara terbuka "menggoda" Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, untuk berpindah haluan menjadi sekutu Teheran.
Langkah ini menyusul keretakan hubungan diplomatik antara Roma dan Washington setelah Donald Trump melontarkan penghinaan kasar terhadap Paus Leo.
Kedubes Iran secara jenaka menyebut Trump sebagai "Commander in Grief" (Panglima Kesedihan) dan menawarkan kualifikasi Iran yang memiliki 7.000 tahun peradaban sebagai mitra baru Italia yang lebih stabil.
Dalam unggahan satir yang viral tersebut, Kedubes Iran di Ghana berkelakar satu-satunya perselisihan antara Iran dan Italia hanyalah soal siapa yang pertama kali menemukan es krim.
Iran mengklaim Faloodeh (mi pati dingin dengan air mawar) lahir lebih dulu pada 400 SM melalui teknologi Yakhchal, sementara Italia memiliki gelato yang lebih masyhur di dunia modern.
"Kualifikasi kami pengalaman 7.000 tahun peradaban. Kita sama-sama cinta pada puisi, arsitektur, dan makanan yang waktu persiapannya lebih lama daripada daya konsentrasi otaknya Trump," tulis akun Kedubes Iran tersebut yang disambut gelak tawa netizen global.
Perlu diketahui, Faloodeh bukan sekadar pencuci mulut. Ini adalah bukti kecanggihan teknologi Persia kuno:
• Sejarah: Ditemukan sekitar 400 SM di tengah gurun Iran.
• Bahan Utama: Mi tipis dari pati, sirup semi-beku, dan esensi air mawar yang harum.
• Teknologi: Bangsa Persia menggunakan struktur kerucut raksasa bernama Yakhchal untuk menyimpan es di musim panas tanpa listrik.
Ketegangan antara Meloni dan Trump sebenarnya telah berakumulasi sejak awal tahun 2026. Setidaknya ada tiga poin krusial yang membuat aliansi ini retak:
1. Izin Militer: Italia menolak memberikan izin bagi pesawat pengebom AS untuk mendarat di Sisilia bulan lalu.
2. Krisis Selat Hormuz: Meloni menolak mengirimkan kapal pembersihan ranjau untuk membantu AS, yang memicu tuduhan "pengecut" dari Trump.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media