Internasional . 19/04/2026, 08:29 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik didih baru pada Sabtu malam setelah militer Iran secara resmi mengumumkan penutupan total Selat Hormuz bagi seluruh aktivitas pelayaran. Ini merupakan reaksi balasan langsung atas kebijakan Amerika Serikat yang tetap melanjutkan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa jalur perairan krusial tersebut akan tetap tertutup hingga Washington mencabut blokade militernya. Dalam pernyataan resminya, IRGC memberikan peringatan keras bahwa setiap pergerakan kapal yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai bentuk kerja sama dengan musuh dan bakal menjadi target serangan militer.
Situasi di lapangan segera memanas tak lama setelah pengumuman tersebut. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan kapal cepat Garda Revolusi melepaskan tembakan ke arah sebuah kapal tanker. Selain itu, sebuah proyektil misterius menghantam kapal kontainer lainnya yang mengakibatkan kerusakan pada sejumlah muatan di Teluk Oman.
Pemerintah India bahkan langsung memanggil Duta Besar Iran setelah dua kapal kargo berbendera India menjadi sasaran penembakan. Eskalasi ini mengancam pasokan energi dunia, mengingat sekitar seperlima volume minyak global melewati jalur sempit ini setiap harinya. Analis memprediksi krisis energi akan semakin mendalam jika gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada Rabu mendatang gagal diperpanjang.
Bagi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, kontrol atas Selat Hormuz adalah senjata strategis paling mematikan untuk menekan ekonomi global dan memberikan pukulan politik bagi Presiden Donald Trump. Sebaliknya, Washington menggunakan blokade pelabuhan sebagai instrumen untuk mencekik struktur ekonomi Teheran yang kian rapuh.
Presiden Trump menegaskan bahwa blokade militer AS akan tetap berlaku penuh hingga Teheran bersedia menyepakati perjanjian baru. Sejak Senin lalu, Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan telah memukul mundur setidaknya 23 kapal yang mencoba menuju Iran.
Klaim sepihak Iran yang sebelumnya sempat membuka selat pada hari Jumat pun sirna seketika. "Pihak Amerika sedang mempertaruhkan stabilitas komunitas internasional melalui salah perhitungan yang sangat berbahaya," ujar Wakil Menteri Luar Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh.
Di tengah dentuman meriam, jalur diplomasi masih diupayakan melalui mediator Pakistan. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyatakan pihaknya sedang bekerja keras untuk menjembatani perbedaan tajam antara kedua negara. Pakistan dijadwalkan menjadi tuan rumah putaran kedua negosiasi pada awal pekan depan.
Meski demikian, Teheran menyatakan belum siap untuk melakukan pembicaraan tatap muka secara langsung selama Amerika Serikat tidak meninggalkan posisi "maksimalisnya". Salah satu poin krusial yang masih mengganjal adalah penolakan Iran untuk menyerahkan stok uranium yang diperkaya kepada pihak AS.
Konflik yang telah memasuki minggu kedelapan ini telah memakan korban jiwa yang sangat besar. Tercatat sedikitnya 3.000 orang tewas di Iran, ribuan lainnya di Lebanon, serta puluhan korban di Israel dan negara-negara Teluk Arab. Dengan tertutupnya gerbang utama minyak dunia ini, stabilitas ekonomi dan keamanan internasional kini berada dalam posisi yang paling rentan dalam satu dekade terakhir.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media