Hukum dan Kriminal . 23/04/2026, 22:34 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Fin.co.id - Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) kini tengah meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi terhadap tren baru peredaran gelap narkotika.
Sindikat barang haram tersebut dilaporkan mulai menggunakan cairan rokok elektrik atau liquid vape sebagai sarana untuk menyamarkan zat terlarang.
Langkah inovasi jahat ini disinyalir kuat bertujuan untuk menjaring konsumen dari kalangan generasi milenial dan Gen Z yang akrab dengan budaya vaping.
Kepala BNN Sumsel, Brigjen Pol Hisar Siallagan, menegaskan masyarakat, khususnya para orang tua, harus bertindak lebih jeli dalam mengawasi kebiasaan anggota keluarganya.
Penyamaran narkoba dalam bentuk liquid ini sangat berbahaya karena sulit dibedakan secara kasat mata dengan cairan rokok elektrik legal yang beredar di pasaran.
"Kami mengimbau masyarakat untuk lebih jeli mengawasi penggunaan vape di lingkungan keluarga. Saat ini, sindikat narkoba terus berinovasi, salah satunya dengan memasukkan zat terlarang ke dalam cairan rokok elektrik," ujar Brigjen Pol. Hisar Siallagan, pada Kamis (23/4/2026).
Berdasarkan hasil investigasi dan pemetaan BNN, terdapat beberapa indikasi kuat yang bisa dijadikan acuan untuk mengenali produk berbahaya ini.
Ciri yang paling mencolok dan mudah dikenali adalah harga yang tidak rasional.
Jika liquid standar di pasaran dijual dengan harga kisaran puluhan hingga ratusan ribu rupiah, liquid "maut" ini bisa dibanderol hingga Rp5 juta per botol.
Selain harga, berikut adalah ciri-ciri fisik dan distribusi yang perlu dicurigai:
• Jaringan Tertutup: Produk biasanya dijual secara sembunyi-sembunyi melalui komunitas terbatas atau pasar gelap (black market).
• Tanpa Legalitas: Kemasan produk cenderung polos, tidak memiliki izin edar resmi, tanpa label bea cukai, serta tidak mencantumkan komposisi bahan yang jelas.
• Efek Samping Ekstrem: Berbeda dengan nikotin biasa, pengguna akan merasakan halusinasi hebat, pusing yang tidak wajar, hingga penurunan kesadaran yang sangat drastis atau efek "fly".
Edukasi masif terus digencarkan melalui berbagai kanal. Mulai dari sosialisasi tatap muka di lembaga pendidikan hingga pemanfaatan platform digital seperti Instagram dan TikTok.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media