Internasional . 24/04/2026, 10:01 WIB
Penulis : Lina | Editor : Lina
fin.co.id – Eskalasi konflik di perairan Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan instruksi keras kepada militer AS. Trump memerintahkan Angkatan Laut untuk langsung melepaskan tembakan mematikan terhadap kapal-kapal kecil Iran yang kedapatan memasang ranjau di Selat Hormuz.
Langkah provokatif ini muncul hanya berselang satu hari setelah Iran kembali menunjukkan taringnya dengan mengganggu jalur lalu lintas maritim di selat strategis tersebut. Trump menegaskan bahwa pembersihan ranjau kini menjadi prioritas utama dengan intensitas operasi yang ditingkatkan hingga tiga kali lipat dari sebelumnya.
Ketegangan ini semakin memuncak bertepatan dengan aksi militer AS yang menyita kapal tanker Majestic X di Samudra Hindia. Kapal tersebut diduga kuat terafiliasi dengan jaringan penyelundupan minyak mentah Iran yang melanggar sanksi internasional. Penangkapan ini merupakan respons langsung terhadap serangan Garda Revolusi Iran sebelumnya yang menyasar tiga kapal kargo di Selat Hormuz.
Di sisi lain, jalur diplomasi di Islamabad, Pakistan, menemui jalan buntu. Pihak Teheran bersikeras tidak akan duduk di meja perundingan sebelum Amerika Serikat mengakhiri blokade pelabuhan. Sebaliknya, Gedung Putih menetapkan syarat mutlak agar Iran membuka akses internasional di Selat Hormuz secara penuh sebelum dialog dimulai.
Di tengah krisis ini, Donald Trump melontarkan klaim adanya keretakan di internal kepemimpinan Iran. Ia menyebut faksi moderat dan garis keras di Teheran sedang mengalami kebingungan dalam menentukan arah kebijakan. Namun, pernyataan ini langsung dibantah oleh pejabat tinggi Iran yang menegaskan bahwa seluruh elemen negara tetap bersatu dalam semangat revolusioner.
Meskipun Trump menyatakan kekuatan militer AS telah mampu melumpuhkan lawan dalam waktu singkat, ia menegaskan tetap membuka pintu kesepakatan. Namun, jika negosiasi gagal, ia tidak menutup kemungkinan untuk menuntaskan konflik melalui jalur militer, meski secara eksplisit menolak penggunaan senjata nuklir.
Selain isu Hormuz, Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Meskipun kesepakatan ini rapuh akibat tuduhan pelanggaran dari kedua belah pihak, AS berkomitmen membantu Lebanon melindungi kedaulatannya dari pengaruh milisi yang didukung Iran.
Dampak dari konflik yang pecah sejak akhir Februari ini telah melumpuhkan aktivitas ekonomi global. Lebih dari 30 kapal menjadi sasaran serangan di Teluk Persia, menyebabkan premi asuransi melonjak tajam dan menghentikan arus logistik di Selat Hormuz. Dunia kini menanti apakah kekuatan diplomasi mampu meredam "bara" yang tengah melahap stabilitas keamanan energi internasional tersebut.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media