Internasional . 24/04/2026, 16:56 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Di tengah tuduhan AS bahwa Iran tengah mempersiapkan bom atom untuk menyerang kota-kota di Timur Tengah, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) memberikan laporan yang sedikit berbeda.
Sebelum pecahnya konflik terbuka pada awal 2026, pengawas nuklir PBB menyatakan bahwa belum ada bukti fisik yang menunjukkan Teheran telah berhasil merakit hulu ledak nuklir yang fungsional.
Iran sendiri secara konsisten membantah ambisi militer dalam program nuklirnya. Mereka mengklaim pengayaan uranium dilakukan semata-mata untuk tujuan damai, seperti pembangkit energi dan kebutuhan medis.
Namun, blokade ekonomi dan serangan udara konvensional yang dilakukan AS-Israel selama konflik ini telah menghancurkan banyak fasilitas riset yang dicurigai sebagai pusat pengembangan senjata.
Sikap Trump yang menyatakan senjata nuklir "tidak boleh diizinkan digunakan oleh siapa pun" dianggap bertolak belakang dengan doktrin nuklir AS yang sudah mapan selama puluhan tahun.
Secara historis, Amerika Serikat selalu mempertahankan prinsip No First Use yang ambigu, di mana mereka tetap memegang hak untuk melakukan serangan nuklir pertama jika kepentingan nasional terancam secara eksistensial.
Trump sebelumnya bahkan sempat mengusulkan diakhirinya moratorium pengujian nuklir AS sebagai respons atas aktivitas rahasia Rusia dan China.
Kontradiksi ini menunjukkan adanya perpecahan atau setidaknya reorientasi strategi di dalam kabinet Trump mengenai bagaimana cara terbaik untuk menjaga posisi AS sebagai polisi dunia tanpa memicu perang global ketiga.
Amerika Serikat tetap menjadi satu-satunya negara di dunia yang pernah menggunakan senjata nuklir dalam pertempuran nyata.
Yaitu saat menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki pada 1945. Tragedi tersebut menewaskan sekitar 214.000 jiwa dan meninggalkan trauma radiasi selama beberapa generasi.
Di sisi lain, Israel, sekutu terdekat AS dalam konflik ini, secara luas diyakini memiliki hulu ledak nuklir namun tidak pernah mengakuinya secara resmi.
Para analis berpendapat bahwa keengganan Trump untuk "memencet tombol" bukan didasari oleh motif kemanusiaan semata, melainkan perhitungan ekonomi dan logistik:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media