Internasional . 25/04/2026, 08:46 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Mantan putra mahkota Iran, Reza Pahlavi, menjadi korban aksi penyerangan ketika berada di Berlin, Jerman. Insiden itu terjadi saat tokoh oposisi Iran tersebut menyapa para pendukungnya usai menghadiri agenda konferensi pers.
Peristiwa berlangsung pada Kamis (23 April 2026) di area trotoar dekat Gedung Bundespressekonferenz, lokasi yang dikenal sebagai pusat kegiatan konferensi pers di Berlin. Saat berjalan bersama pengawal pribadinya, Pahlavi tiba-tiba disiram cairan berwarna merah oleh seorang pria yang berada di belakangnya.
Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, pelaku tampak membawa ransel sebelum mendekati rombongan Pahlavi. Sesaat kemudian, cairan merah yang diduga menyerupai saus tomat dilemparkan ke arah tubuh mantan pewaris takhta Iran itu.
Cairan tersebut mengenai bagian belakang kepala, leher, hingga jas yang dikenakan Pahlavi. Meski terkena lemparan, pria berusia 65 tahun itu tetap melanjutkan langkahnya dan terlihat masih melambaikan tangan ke arah para pendukung yang hadir.
Petugas keamanan yang berada di lokasi langsung bergerak cepat mengamankan pelaku. Hingga kini, identitas pria tersebut belum dipublikasikan dan motif penyerangan masih dalam penyelidikan.
Kunjungan Pahlavi ke Berlin sendiri berkaitan dengan agenda politiknya sebagai salah satu tokoh oposisi Iran. Dalam konferensi pers yang digelar sebelumnya, ia menyampaikan pandangannya terkait situasi politik di Iran dan peran negara-negara Barat.
Pahlavi, yang merupakan putra dari shah terakhir Iran yang digulingkan pada revolusi 1979, juga mengkritik sikap pemerintah Jerman karena tidak mengadakan pertemuan resmi dengannya selama kunjungan tersebut.
Dalam pernyataannya di Berlin, ia menyoroti kondisi politik Iran dan menilai perubahan kekuasaan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari.
"Pertanyaannya bukanlah apakah perubahan akan datang. Perubahan sedang dalam perjalanan," cetus Pahlavi dalam konferensi pers di Berlin.
"Pertanyaan sebenarnya adalah berapa banyak warga Iran yang akan kehilangan nyawa, sementara komunitas demokrasi Barat hanya terus menonton," ucapnya.
Nama Pahlavi belakangan kembali menjadi sorotan di kalangan oposisi Iran, terutama setelah meningkatnya demonstrasi antipemerintah di negara tersebut. Meski tinggal di luar Iran selama puluhan tahun, ia masih kerap dikaitkan dengan wacana perubahan politik di negara itu.
Di sisi lain, dukungan terhadap Pahlavi di dalam negeri Iran masih menjadi perdebatan. Posisi politiknya dinilai memiliki pendukung, namun belum ada ukuran pasti mengenai seberapa besar pengaruhnya di tengah masyarakat Iran saat ini.
Apa Motif dan Makna Cairan Merah?
Motif pasti penyerangan terhadap Reza Pahlavi belum diketahui secara resmi. Pelaku yang melempar cairan merah langsung diamankan, tetapi pihak berwenang belum mengungkap alasan di balik aksinya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media