Nasional . 28/04/2026, 21:40 WIB
Penulis : Rizal Husen | Editor : Rizal Husen
Menemui langsung perwakilan perusahaan yang sudah hadir di rumah sakit untuk meminta kebijakan pro-korban.
Tragedi berdarah yang terjadi pada Senin malam (27/4/2026) sekitar pukul 20.50 WIB di Stasiun Bekasi Timur ini diduga kuat dipicu oleh faktor eksternal.
Sebuah mobil listrik dilaporkan mengalami mogok tepat di perlintasan sebidang, yang menyebabkan kemacetan arus lalu lintas kereta api dan membuat KRL Commuter Line terpaksa berhenti di titik berbahaya.
Kesaksian dari penumpang selamat menggambarkan betapa mencekamnya detik-detik saat moncong KA Argo Bromo Anggrek menghantam bagian belakang KRL yang sedang statis.
"Kejadiannya begitu cepat. Saat KRL sedang berhenti, tiba-tiba dari arah belakang kami ditabrak oleh kereta jarak jauh," ungkap Andi (42), salah seorang saksi mata sekaligus penumpang selamat.
Hingga Selasa malam, tim gabungan dari kepolisian, KAI, dan tenaga medis masih terus bekerja keras melakukan identifikasi dan penanganan intensif.
Kerusakan parah pada gerbong wanita membuat proses evakuasi dan identifikasi memerlukan ketelitian tinggi.
Pemerintah melalui Kementerian PPPA berjanji akan terus mengawal kasus ini hingga seluruh korban mendapatkan hak-haknya, serta memastikan adanya langkah preventif agar pengaturan posisi gerbong kereta api di masa depan lebih menjamin keselamatan kaum perempuan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media