Nasional . 29/04/2026, 08:49 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi terkait posisi gerbong khusus wanita di rangkaian KRL menuai sorotan publik. Pernyataan itu muncul setelah insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan 15 orang.
Arifah mengusulkan agar gerbong perempuan tidak lagi ditempatkan di bagian paling depan atau belakang rangkaian kereta. Menurutnya, posisi gerbong wanita sebaiknya berada di tengah untuk meminimalkan risiko saat terjadi kecelakaan.
"Dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah kepada wartawan usai menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa 28 April 2026.
Ia mengaku telah berdiskusi dengan pihak KAI mengenai penempatan gerbong khusus wanita. Dari penjelasan yang diterima, gerbong wanita selama ini ditempatkan di ujung rangkaian guna menghindari kepadatan dan perebutan tempat.
"Tadi kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan," ucapnya.
Meski demikian, Arifah menilai perlu ada evaluasi setelah insiden maut tersebut. Ia mengusulkan agar gerbong paling depan dan belakang diisi penumpang laki-laki, sementara gerbong perempuan berada di tengah rangkaian.
"Jadi yang laki-laki di ujung. Depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu," kata dia.
Usulan Menteri PPPA Picu Perdebatan
Pernyataan Arifah langsung menjadi perbincangan di media sosial. Sejumlah warganet menilai usulan tersebut tidak menyentuh akar persoalan kecelakaan kereta, melainkan hanya mengubah siapa yang berpotensi menjadi korban.
Sorotan publik muncul karena kecelakaan dinilai lebih berkaitan dengan sistem keselamatan transportasi dibanding posisi penumpang berdasarkan gender.
Menanggapi polemik tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menegaskan bahwa keselamatan transportasi tidak boleh dibedakan antara laki-laki maupun perempuan.
"Memang belum pernah terjadi sebelumnya ada tumbukan dari KRL dari belakang dihantam oleh kereta api jarak jauh. Dan kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus wanita. Pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan bisa dikatakan risiko yang paling tinggi," ujar AHY kepada wartawan setelah menjenguk korban di RSUD Bekasi, Selasa 28 April 2026.
"Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun," sambungnya.
Pemerintah Fokus Benahi Sistem Keselamatan
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media