Internasional . 30/04/2026, 07:02 WIB

UEA Keluar dari OPEC Per 1 Mei: Arab Saudi Terpukul, Harga Minyak Dunia Terancam Kacau

Penulis : Rizal Husen  |  Editor : Rizal Husen

Fin.co.id - Peta kekuatan energi global resmi berubah total. Uni Emirat Arab (UEA) secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri dari keanggotaan OPEC dan OPEC+ efektif per 1 Mei 2026.

Keputusan yang diumumkan pada Selasa (28/04/2026) ini menjadi pukulan telak bagi Arab Saudi sebagai pemimpin de facto kartel minyak tersebut. Terutama di saat ketegangan perang Iran tengah memicu krisis energi bersejarah.

Langkah ini menandai berakhirnya loyalitas panjang UEA terhadap kebijakan kuota produksi minyak yang selama ini diatur oleh organisasi yang bermarkas di Wina tersebut.

Tanpa ikatan kuota, UEA kini memiliki fleksibilitas penuh untuk memacu produksi minyak mentah dan gas guna memenuhi lonjakan permintaan pasar internasional.

“Ini adalah keputusan kebijakan yang diambil setelah pertimbangan mendalam terkait strategi produksi masa kini dan masa depan. Menjadi negara tanpa kewajiban di bawah kelompok produsen akan memberikan kami fleksibilitas untuk memenuhi kebutuhan energi dunia,” tegas Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei.

UEA Fokus pada Fleksibilitas Cadangan Strategis Dunia

Keputusan hengkang ini didorong oleh visi strategis Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) yang kini tidak lagi memposisikan diri sebagai produsen lokal semata, melainkan pemain internasional di sepanjang rantai nilai energi.

UEA melihat adanya ancaman serius pada cadangan strategis minyak dunia yang terkuras hingga level mengkhawatirkan akibat ketidakstabilan geopolitik.

Menteri Mazrouei menambahkan bahwa UEA ingin memastikan dunia tetap mendapatkan pasokan minyak mentah, petrokimia, hingga gas alam cair (LNG) tanpa hambatan birokrasi organisasi.

Ia juga menegaskan keputusan ini murni kedaulatan UEA dan tidak dikonsultasikan sebelumnya dengan negara anggota lain, termasuk Arab Saudi.

Selat Hormuz Terblokade, UEA Cari Jalan Sendiri

Situasi di Selat Hormuz menjadi pemicu krusial di balik langkah berani ini. Serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker di jalur sempit yang mengalirkan seperlima minyak dunia tersebut membuat UEA merasa perlu memiliki kendali penuh atas kebijakan ekspornya sendiri.

UEA juga sempat melontarkan kritik terhadap negara-negara Arab tetangga yang dinilai kurang memberikan perlindungan maksimal dari ancaman Iran selama konflik berlangsung.

Di sisi lain, keluarnya UEA dari OPEC dianggap sebagai kemenangan diplomatik besar bagi Presiden AS Donald Trump.

Selama ini, Trump secara terbuka menuduh OPEC melakukan praktik monopoli yang merampok ekonomi global melalui penetapan harga tinggi.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com