Nasional . 03/05/2026, 11:48 WIB
Penulis : Wanda Afifah | Editor : Wanda Afifah
fin.co.id - Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada Minggu pagi, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini erupsi dengan tinggi kolom letusan mencapai 900 meter di atas puncak. Kondisi ini langsung jadi perhatian karena potensi dampaknya cukup luas, terutama bagi warga di sekitar wilayah Lumajang dan Malang, Jawa Timur.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan bahwa erupsi terjadi tepat pukul 08.00 WIB. Kolom abu terpantau membumbung hingga sekitar 4.576 meter di atas permukaan laut. Selain itu, warna abu terlihat putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang condong ke arah barat daya.
Situasi ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Pasalnya, arah sebaran abu vulkanik berpotensi memengaruhi wilayah di sekitarnya, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Jika melihat data aktivitas vulkanik, Semeru memang sedang cukup “sibuk”. Dalam enam jam terakhir, sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, tercatat sebanyak 18 kali gempa letusan atau erupsi. Amplitudo gempa berada di kisaran 10 hingga 22 mm dengan durasi antara 89 hingga 201 detik.
Tak hanya itu, aktivitas lain juga ikut terdeteksi. Gunung ini mengalami satu kali gempa embusan dengan amplitudo 4 mm selama 60 detik. Kemudian, ada satu kali gempa harmonik dengan amplitudo 10 mm dan durasi 148 detik.
Menariknya, aktivitas tektonik juga muncul dalam bentuk satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 6 mm, selisih waktu S-P selama 53 detik, dan durasi total 140 detik. Kombinasi data ini menunjukkan bahwa tekanan di dalam perut bumi masih cukup aktif dan dinamis.
Saat ini, Gunung Semeru masih berada pada status Level III atau Siaga. Artinya, aktivitas vulkanik berada di atas normal dan berpotensi meningkat sewaktu-waktu.
Karena itu, otoritas terkait langsung mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Area ini menjadi zona merah karena berisiko tinggi terdampak langsung oleh erupsi.
Namun, bukan berarti wilayah di luar itu sepenuhnya aman. Warga tetap harus waspada, terutama jika berada dekat aliran sungai. Aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan juga tidak disarankan. Hal ini karena potensi awan panas dan aliran lahar bisa meluas hingga 17 kilometer dari puncak.
Selain ancaman abu vulkanik dan lahar, bahaya lain yang mengintai adalah lontaran batu pijar. Oleh sebab itu, masyarakat tidak boleh beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Semeru.
Kondisi ini cukup krusial, terutama bagi pendaki atau warga yang biasa beraktivitas di sekitar lereng gunung. Lontaran batu pijar bisa terjadi secara tiba-tiba dan membahayakan keselamatan.
Di sisi lain, potensi awan panas juga menjadi perhatian utama. Awan panas bisa meluncur melalui aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak gunung. Beberapa titik yang perlu diwaspadai antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media